PESAWAT HIJRAH





||Hijrahku||
|| pesawat hijrah ||
Oleh : Alfie



"Aku tidak suka dan tidak mau naik pesawat terbang, mah" ucapku pada ibuku saat menonton berita kecelakaan pesawat di salah satu channel tv.

Hari itu, minggu pagi yang tenang, matahari bersinar terang memantulkan kehangatannya melalui jendela rumahku, angin segar masih terasa sisa embun pagi yang tak lama berlalu.
Seperti biasa setelah aku menyelesaikan cucianku sudah menjadi kebiasaan stay tune di depan layar kaca. Menunggu ftv favorit ku yang akan tayang setelah berita yang tengah ku tonton.
"Belajar kak, besok kan ujian"
Ucap ibuku sambil menyuapi adik bungsuku.
"Ah, nanti saja" ujarku.


Berawal sejak kelas 5 sekolah dasar.
Setelah berusaha mengalahkan sainganku, aku berhasil menjadi juara di kelasku. Hasilnya Ayah membelikan sepeda baru yang membuatku semakin gembira dan semakin manja pada ayah, tidak berhenti sampai di situ, berlanjut ke jenjang SMP dan SMK aku tidak pernah mau tereliminasi dari posisi ku sebagai bintang kelas.
Penghargaan demi penghargaan tidak sedikit ku dapatkan.
Pujian menjadi anak kebanggaan selalu ku tuai setiap kali Ayah dan ibuku membawaku ke suatu tempat.
Pasalnya meski aku lahir di tengah keluarga sederhana ayah dan ibuku masih bisa memanjakan ku dengan memberikan apa yang aku mau karena prestasiku.

Aku yang terbiasa di beri perhatian dan kasih sayang lebih, baik dari orangtuaku, guruku, dan orang-orang di sekitarku membuatku tidak mau kalah dari siapapun dalam bidang apapun.
Hal ini, semakin lama menumbuhkan rasa sombong dan egois serta lupa bersyukur.
Hingga mulailah aku lalai,
Sudah malas belajar "ah, belajar atau tidak aku selalu juara" batinku.
Semakin lama semakin menjadi mulai dari susah bangun subuh, bahkan sholat 5 waktupun tidak jarang terlupakan. Namun, aku adalah tipe seorang pemimpi besar aku berkeinginan kuliah di sebuah universitas ternama. Sekolah menengah Atas kejuruan yang ku ambil memiliki bursa kerja internasional.
Aku berniat melangkahkan kaki ku ke negeri sakura Jepang lalu pulang untuk kuliah di universitas impianku.

Di sisi lain sifat tidak mau kalahku mulai menarikku ke arah yang melenceng. Menginjak remaja aku mulai suka berdandan bahkan mulai tertarik untuk pacaran. Ya, dari situlah aku mulai kehilangan segalanya.

Singkat cerita, mei 2013 tibalah hari pengumuman kelulusan di sekolahku, sungguh terkejut luar biasa, karena bukan aku yang menjadi juara sekolah, aku hanya tercatat sebagai peringkat ke 4 di sekolah. Itu membuatku sangat terpukul , "malu" itulah yang ada dalam pikiranku. Meski orangtua dan guru-guruku masih bangga terhadapku namun itu benar-benar menjatuhkan semangatku. Tidak sampai di situ tak lama kemudian aku di beritahu bahwa aku gagal interview ke jepang.
Malam harinya aku menangis sejadi-jadinya, tanganku meraih bantal dan membekapkannya ke mulutku , aku tidak mau isak tangisku melukai hati orangtuaku. Aku terpukul, dan merasa bahwa harapan dan mimpiku hancur begitu saja.

Kehilangan apa yang ku inginkan dan ku rencanakan membuatku berprasangka buruk pada Allah, mungkin Allah marah padaku dan menghukumku dengan cara ini. Mungkin Allah murka padaku, mungkin dan mungkin lagi.

Aku masih terpuruk....


Beberapa kali bekerja di beberapa tempat tidak ada yang sesuai dengan hatiku dan selalu berakhir kembali ke rumah. Hingga suatu saat setelah berbincang dengan kawanku yang lebih dulu pergi bekerja ke malaysia, aku memutuskan untuk mengikutinya
"Ini pelarianku" dalam batinku. Mulai ku urus pembuatan paspor, medikal dan segala dokumen yang do butuhkan, aku berniat pergi tanpa banyak orang yang tahu.
Setidaknya aku masih bisa bekerja dan jauh dari orang-orang yang mulai meremehkanku.
Ku beranikan diri pergi dari rumah, berbekal izin dari orangtuaku aku melangkah pergi.
Untuk pertama kalinya aku menaiki pesawat terbang . Yang tidak pernah kubayangkan adalah pesawat terbang ini bukan yang membawaku ke mimpiku ke negeri sakura tapi yang membawaku ke tempat pelarianku.

Allah tidak ingin membiarkan hambanya terlalu jauh dariNYA.
Disinilah cahaya hidayah menyambutku. Hidup seorang diri dengan orang-orang asing dan lingkungan yang berbeda membuatku sulit beradaptasi karena sifat manjaku.
Seringkali aku menangis sendirian di kamarku, meratapi kegagalanku di tambah mendengar kawan-kawanku yang lebih sukses bahkan ada yang berhasil ke negeri sakura membuatku sesak. Selama 7 bulan aku tidak bisa bergaul dengan baik dan selalu mengeluh. Tidak jarang aku hanya berdiam diri di asrama.
Hingga pada suatu malam saat aku benar-benar sendiri di tengah hening malam, pandangan hatiku mulai terbuka merenungi waktu yang telah berlalu. Sayup-sayup angin seolah membisikkan nasihat demi nasihat yang Ayah berikan padaku.
" Apapun yang telah terjadi adalah kehendak Allah, maka pasti ada hikmah di balik kejadian itu"
" kakak akan mengerti saat kakak sudah bisa mencari makna itu sendiri" lanjutnya.
" Allah tidak pernah meninggalkan hambanya"
Semakin malam air mataku tak terasa semakin mengalir membasahi pipiku . Hatiku mulai menatap ke ruang kosong di dalamnya terasa hampa. Aku kembali menangis mengingat begitu banyaknya nikmat Allah yang tidak ku syukuri sejak aku lahir, betapa sombongnya aku padahal semua ini milikNYA yang kapan saja bisa Allah ambil kembali. Betapa angkuhnya hatiku membuat Allah kecewa dengan kelakuanku.
Akhirnya, aku bertemu dengan beberapa sahabat yang kemudian mengajakku mengikuti kajian rutin LIQO setiap libur kerja, forum ini berisi kumpulak muslimah indonesia yang bekerja di malaysia. Banyak sekali yang ku pelajari dengan kawan-kawanku serta guru yang membimbingku. sedikit demi sedikit aku mulai berubah,
Aku mulai mengenakan jilbab dan menutup auratku dengan benar.
Bergaul dengan teman-teman dalam lingkup tarbiyah membuatku semakin mantap untuk meninggalkan diriku yang lama.
Bila dulu aku anak kesayangan orang tua dan guru-guruku, maka kini aku berusaha menjadi hamba kesayangan Allah.
Disini, aku merangkai kembali mimpi demi mimpi, harapan dan tujuan baru dalam hidupku.

Apa yang terjadi di masa lalu, menjadi pelajaran bagiku. Semua ini bukan kemarahan atau hukuman dari Allah, melainkan caranya menyayangiku. Pesawat yang asalnya menjadi pesawat pelarianku menjadi pesawat hijraku.
Pesawat itu benar-benar mengantarku berhijrah. Pesawat pertamaku yang Allah jadikan sebagai pintu gerbang kasih sayangNYa.

"......Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah Memberi petunjuk kepada cahayaNya bagi orang-orang yang Dia
kehendaki, dan Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia. Dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu." [an-Nur; ayat 35]

Wajahku basah dengan air mata.
Aku tidak mampu lena sampai ke Subuh karena tangisanku yang berlarut.
Aku rasa Allah itu sungguh dekat.
Aku rasa aku ingin menyentuhNya dengan taubatku yang bersungguh-sungguh.
Demi Allah.. Aku ingin kembali kepadaMu..
Ya Allah.. pimpinlah aku ke jalan yang Kau ridhoi. Aamiin.

Komentar

  1. Lama ndak baca cerpen.... Btw, Ini bukan kisah nyata kan? Hehe..
    Salam kenal juga ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak miris ya hehe
      Salam kenal ^-^) syukron sudah mampir :)

      Hapus
  2. Subhanallah.....hikmahnya dalam banget:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semakin seseorang berani mengambil hikmah dari seburuk-buruknya kejadian. Skenario Allah menjadi selalu indah ya mbak ^-^)
      .
      Syukron sudah mampir :)

      Hapus
  3. Masyaallah , terimakasih kaka sduah mengingatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saling mengingatkan ya ^-^)
      Syukron sudah mampir

      Hapus
  4. Masyaallah, semoga dikuatkan dalam hijrahnya kak :)

    BalasHapus
  5. Masyaa Allah, semoga istiqamah dalam hijrah bersama cintaNya kak :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNSUR-UNSUR PAGELARAN DRAMA

CARA MENYEMAI BENIH CABAI PAPRIKA DENGAN TEKNIK HIDROPONIK

HUJAN DIMALAM JUM'AT