AURORA
Matahari bersinar terang ketika seorang pria
berlari kearahku. Tubuhnya tinggi dan gagah dengan kemeja putih. Langkahnya
diiringi dengan ribuan merpati yang berterbangan ke angkasa. Aku hanya bisa
berdiri terpaku menatapnya yang kian mendekat. Gaun merah muda yang kukenakan
ikut berhembus diterpa angin. Rambut panjangku yang terurai tak kalah diterpa sepoi-sepoi
udara.
“Aku mencintaimu Aura”
bisik pria itu lembut. (backsound
: gerua)
Suasana semakin romantis. Kami berdiri di
padang rumput yang luas. Di sana terdapat beberapa pohon rindang. Air terjun
melengkapi romansa dua insan yang dimabuk asrama. Pria itu semakin mendekat,
dan lebih dekat lagi. Matanya tajam menatap mataku. Wajahnya mengarah ke
wajahku. Perlahan tangannya menyibak sedikit rambut yang menutupi pipiku, dan
tangan yang lain memegang daguku. Aku memejamkan mata perlahan….
#BRRUGGGG !!!!! Aku terjatuh dan mendarat tepat di atas lantai kamar dibawah ranjangku.
“Aaaaaaww”
teriakku. Sial ! lagi-lagi itu hanya mimpi. Mimpi yang sama beberapa malam ini.
Ini gara-gara aku terlalu menonton drama romance
akhir-akhir ini.
“
Auraa ! cepat turun apa kau tidak melihat jam berapa sekarang !“ teriak
ibuku dari lantai bawah. Sudah pasti ia sedang menyiapkan sarapan.
“
Iya mah, aku segera turun” jawabku yang bahkan belum sepenuhnya sadar. Aku
melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
“Tunggu dulu ! 8 PAGI ???. Aku
kesiangan lagi !” Aku langsung mandi dan mengganti pakaian. Langkah kaki
kian kupercepat hingga melewati meja makan yang sudah wangi dengan nasi goreng
khas buatan ibuku.
“Aku
tidak bisa sarapan di rumah mah, aku terlambat” ucapku seraya berlalu.
“ Aura
tunggu ! kalau begitu bawalah bekal nasi ini untuk makan siang ya?” Katanya
lalu memasukan bekal itu pada sebuah lunch
box.
“Baiklah, aku pergi mah” aku pamit setelah mencium pipi ibuku.
Namaku Aurora Patricia, tapi orang-orang
lebih suka memanggilku Aura.
Aku adalah seorang dokter jiwa dan psikolog di
sebuah rumah sakit di Inggris. Sejak 3 tahun yang lalu aku ditugaskan di sini
dan menerima beberapa penghargaan setelah menyembuhkan beberapa pasien gangguan
jiwa karena teknik konsultasi yang kupelajari di Jerman. Aku hidup berdua bersama ibuku setelah ayah meninggal saat umurku 10 tahun.
![]() |
| Aurora Patricia |
Hari ini aku memiliki jadwal konsultasi
dengan beberapa pasien. Karena terlambat 30 menit, aku harus rela melepaskan
dua pasienku pada dokter lain. Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit lalu
membuka sebuah pintu ruang konsultasi.
Di sana tengah duduk seorang perempuan muda
bernama Gwen yang menatap kosong keluar jendela rumah sakit. Ia tercatat sebagai pengidap
skizofrenia. Gangguan jiwa ini memiliki ciri yang khas yaitu kekacauan
komunikasi dan akan sangat sulit untuk berbicara karena ada rasa depresi,
halusinasi dan kecemasan yang berlebihan saat berkomunikasi.
![]() |
| Gwen. |
Perlahan aku mulai mendekat dan berusaha
bertatap muka dengannya. Air mata terlihat mengalir dikedua pipinya.
“Baiklah nona Gwen, apa kau siap untuk
konsultasi kali ini?” tanyaku
padanya yang tak mendapat respon sedikitpun.
“Aku
tidak akan berperan sebagai dokter ataupun psikolog, anggaplah aku temanmu yang
akan membagi luka denganmu. Jadi, aku tahu kau akan mendengarkanku. Aku akan
menjelaskan kisah hidupku. #mikir
keras# Aku adalah seorang yatim, aku
miskin tapi cukup cantik, bukan?hihihi. Sebenarnya, aku ditinggalkan pacarku
setahun lalu. Aku merasa hidupku hancur dan ingin mengakhiri hidupku saja. Tapi
setelah melihat lelaki brengsek itu tertawa riang dengan wanita barunya aku
sadar. Hidupku tidaklah sebegitu hinanya hingga harus hancur demi seorang pria”.
Aku mengarang sekenanya untuk membuatnya
bicara. Entah mengapa ia seperti mulai tertarik untuk mendengarkanku. Aku
kembali memutar otakku untuk membuatnya percaya padaku.
“Isshh
! aku ini bukan penulis, aku tidak tahu caranya mengarang cerita” batinku.
“Lalu,
apa kau tahu? Aku sukses dan menjadi dokter dan kini lelaki brengsek itu sudah
mati bunuh diri karena tidak bisa kembali padaku” lanjutku.
Gadis bernama Gwen itu lalu melotot padaku.
Kedua tangannya menggenggam erat tanganku dengan badan bergetar dan berkeringat
seolah ketakutan, ia memintaku untuk melakukan sesuatu yang membuat jantungku
lepas dari tempatnya.
“A..apa..apa
kau juga bisa melakukannya untukku?” Tanya Gwen yang sontak
membuatku terperanjat. Akhirnya aku berhasil membuatnya bicara.
“Tentu.
Apa yang harus kulakukan untuk temanku ini?” tanyaku padanya dengan senyum bangga.
“Bisakah
kau membunuh pria itu untukku?” Tanya Gwen dengan
tatapan memelasnya kearahku.
#DEGGHHH
!!!
Detak jantungku seolah berhenti. Aku sulit
mencerna kalimatnya. Nafasku tersengal dan ada perasaan tak terduga dalam
diriku. Pasienku mulai sadar dari gangguan jiwanya, tapi untuk itu ia memintaku
untuk membunuh seseorang ? ini gila ! benar-benar gila. Tentu saja aku tidak
mau melakukannya.
“Dasar
pembohong!” teriak Gwen yang membuyarkan lamunanku
karena syok.
Belum sempat aku berbicara lagi padanya
suster masuk dan mengatakan bahwa konsultasinya selesai dan suami pasien ingin
membesuknya.
Gwen kembali diam. Ada raut ketakutan pada
wajahnya setelah mendengar suaminya datang.
Sebulan
berlalu….
Aku
mendapat kabar bahwa Gwen dinyatakan sembuh dan dibawa pulang oleh suaminya.
Aku merasa ada yang janggal dari kepulangan Gwen yang tiba-tiba. Padahal
seminggu yang lalu saat aku melihatnya dia masih dalam kondisi yang sama.
“Ada
yang tidak beres dengannya, aku yakin dia tidak sakit jiwa karena kondisi
vitalnya selalu menunjukkan kondisi baik” batinku.
Aku yang terus dihantui perasaan aneh dan
bersalah karena mengarang cerita padanya tidak bisa tinggal diam. Aku datang ke
meja administrasi dan menanyakan alamat Gwen. Tapi, ada yang aneh saat itu.
“Suami pasien membayar biaya rumah sakit lebih dari yang tertulis dan
juga terlihat seperti sangat tidak ingin jauh-jauh dari pasien. Mungkin itu
alasannya membawa istrinya pulang” kata seorang staff.
Keesokan harinya aku mendatangi rumah
Gwen. Aku sengaja tidak membawa mobil supaya mereka tidak tahu bahwa aku
datang. Setelah sampai aku mengendap-endap di jendela depan rumahnya. Rumah itu
sangat mengerikan, tidak terawat dan penuh dengan ukiran-ukiran yang aneh. Ada
aura yang menakutkan yang membuatku bergidig.
Aku
menemukan sedikit celah dijendela hingga mataku bisa mengedarkan pandangan kedalamnya
dan betapa kaget bukan main saat aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku
adegan suami pada istrinya.
Gwen diikat disebuah kursi kayu dengan mata
ditutupi sehelai kain. Bibirnya terlihat berdarah dan membiru. Rambutnya
acak-acakan seolah telah dijambak beberapa kali. Dari arah lain terlihat sang
suami yang memakai baju hitam dengan sarung tangan membawa sebilah pisau tajam
kearah Gwen.
“Kau tahu betapa aku sangat menginginkanmu,
sayang? kau adalah bidadariku dan darahmu adalah heroin bagiku” kata
suaminya dan tanpa terlihat ragu ia menyayat kulit tangan Gwen dengan cukup
dalam.
Darah mengalir deras keatas lantai. Gwen meringis kesakitan dan
menangis. Disisakannya sedikit kulit Gwen yang terbuka, lalu ditariknya kulit itu perlahan. Gwen terlihat menahan rasa perih. Suami Gwen lalu memegang dagunya dan perlahan mengiris pipi kanan gwen. Aku sudah tidak bisa mengatur nafas. Otak ini sangat syok dengan apa
yang kulihat. Aku rasa suami Gwen adalah seorang psikopat gila.
“Hidup
Gwen dalam bahaya !” batinku. Aku sangat bingung. Tanganku bergetar saat
mengeluarkan handphone dari saku celana jeans yang kupakai. Aku
menelpon polisi untuk segera datang.
Belum selesai aku bicara hujan turun
dengan sangat deras disertai petir. Aku yang sangat ketakutan mencoba mencari
apapun yang bisa kugunakan untuk menolong Gwen.
Aku menemukan sebuah batu yang cukup besar,
dengan percaya diri aku masuk dengan paksa kedalam rumah dan kulihat Gwen sudah
tak sadarkan diri.
“Pembunuh ! jauhi dia atau aku akan
memukulmu!” teriakku dan tanpa ba bi bu aku
melempar batu itu kearah kepala lelaki itu. Dia mengerang kesakitan. Lalu
menatap tajam kearahku. Ada raut kesal diwajahnya. Lututku terasa lemas saat ia
mulai mendekat. Detak jantungku sudah tak beraturan. Waktu terasa begitu lambat berjalan. Langkah kakinya yang menyeramkan bak seorang pembunuh berdarah dingin melangkah kearahku.
“Wah,
kau cukup berani untuk melempar batu itu padaku” kata lelaki itu seraya
membolak-balikan pisau berlumur darah ditangannya. Seolah ia terobsesi dengar
darah manusia.
“Celaka
! bagaimana ini” batinku
“kau ! jangan mendekat !” aku lari kearah pintu keluar tapi, lelaki
itu lebih cepat dari yang kukira.
#BRUKKK !!!!
Dia berhasil meraihku
dan langsung membantingku ke lantai.
#KREKKK suara tulang pergelangan kakiku yang seperti patah.
Diinjaknya pergelangan kakiku hingga tidak
bisa kugambarkan sakitnya.
“Teruslah berteriak ! Sakit?apa ini sakit”
ucapnya yang terlihat menikmati jeritan kesakitanku.
“Kau benar-benar
gila !” Teriakku pada suami Gwen.
Lalu tiba-tiba dia
mencekikku dan mengacungkan pisaunya hendak menusuk perutku. Aku melawan
semampuku, hingga kami beradu kekuatan. Pisau tajam itu berayun saat kami masih
saling mendorong.
#SREBBB !! suara sebilah pisau yang berhasil menusuk kulit dan daging.
Pisau itu
menancap kuat di perutnya. Aku menjauhkan diri darinya. Aku tidak sengaja
melakukannya. Tapi, aku sangat ketakutan melihat Gwen dan suaminya tergeletak
di hadapanku. Aku berlari kearah Gwen dan mencoba menyadarkannya.
Tak lama kemudian,
polisi datang dan langsung meringkusku sebagai tersangka tanpa mau mendengar
penjelasan dariku.
6 Bulan kemudian….
Pengadilan
menyatakan aku tidak bersalah atas kesaksian Gwen dan rekap data penyakit
psikopat yang dimiliki suaminya. 6 bulan aku merasakan dinginnya penjara karena
Gwen koma setelah kejadian itu. Sedangkan suaminya meninggal. Akhirnya aku
bebas dan mendapatkan kembali hidup normalku. Aku memutuskan kembali bekerja di
rumah sakit bagian kejiwaan.
Beberapa hari
kemudian Gwen datang ke rumah dan langsung memelukku erat.
“Terima kasih
Aura” ucapnya seraya tersenyum. Ia akhirnya sembuh total dari penderitaannya
selama ini dan kamipun akhirnya menjadi teman baik sejak saat itu.
Mentari memudar di
ufuk barat. Kami menghabiskan sore itu dengan secangkir teh hangat.
“Aku kira itu cinta. Ternyata aku hanya kelinci baginya. Psikopat gila!” kata Gwen
mengingat suaminya.
“Lupakan semuanya. Semuanya akan baik-baik saja sekarang”
jawabku menenangkan Gwen.
Kita yang hidup
memiliki masa kelam masing-masing. Cinta tidak bisa dijadikan alasan untuk
menyakiti seseorang baik fisik maupun psikis.
Cobalah lihat cermin dan tersenyum. Tanyakan
apa jiwamu baik-baik saja. Apakah hari ini kau cukup kuat untuk menghadapi masa
kelammu dan merubahnya menjadi masa depan yang bersinar.
The end
Alfie.




Waww... kereeen...
BalasHapusMakasih mbak ciani ^^ ditunggu koreksinya.
HapusTerima kasih sudah mampir mbak wiwid :) mohon saran dan kritiknya.
BalasHapus