BEAUTIFUL TARGET CHAPTER 1
BEAUTIFUL
TARGET
Di sebuah gedung serbaguna, terlihat ramai orang
dengan busana yang rapih dan mewah. Di luar terpampang beberapa ucapan selamat
dari berbagai perusahaan sponsor. Lukisan-lukisan indah dan bermakna mengisi
setiap dinding gedung hingga semua orang yang melihatnya berdecak kagum.
Pameran lukisan itu seolah menjadi ajang bergengsi
yang diminati kalangan atas seperti kolektor seni, pejabat, artis, dan
konglomerat.
Di sela-sela keramaian, seorang pembawa acara
memanggil pemilik sekaligus pencipta lukisan-lukisan itu.
“Dan kita sambut seniman berbakat kita tahun ini,
Kim tae hee”. Ucap sang pembawa acara.
Sontak semua mata tertuju pada seorang
gadis cantik yang muncul dengan balutan gaun merah muda yang elegan. Rambutnya
terurai bebas menghiasi pundaknya.
Semua pengunjung pameran tersebut langsung bertepuk
tangan menyambut kedatangan Tae hee.
“Dia benar-benar wanita yang berbakat dan hebat,
selain itu lihatlah, ia juga memiliki wajah yang sangat cantik” ujar seorang
pengunjung pada kawannya.
Yo jin yang merupakan sepupu Tae hee dari pihak
ibunya pun memberi selamat atas kesuksesan sepupunya itu. Yoo jin datang bersama
kekasihnya Baro.
“Selamat ya kak, akhirnya mimpimu jadi kenyataan”
ucap Yoo jin.
“Terima kasih Yo jin” jawab Tae hee.
“Hei, kakak ipar !kau akan mentraktir kami kan?” Tanya
Baro yang antusias.
“Hahaha baiklah calon adik iparku, aku akan
mentraktirmu dan memberikan struk tagihannya padamu” gurau Tae hee yang
langsung pergi menemui tamu undangan yang lain.
Ditempat lain….
Toni sedang melaporkan penurunan saham perusahaan
pada atasannya di bidang apartemen dan perhotelan pada Reza selaku presdir utama disana. Reza melemparkan
semua berkas laporan yang di bawa Toni dengan kesal.
"Aku tidak suka penurunan saham ! jadi, kenapa kau masih melaporkannya jika itu penurunan, hah !" Bentak Reza kesal.
"Ma .. maaf presdir tapi saingan kita cukup kuat dalam hal ini" bela Toni.
"Apa? Cukup kuat katamu? Siapa? Siapa yang cukup kuat sehingga aku tidak bisa mengalahkannya?. Cepat pergi dan beli saham mereka. Dan kalau ada pergerakan saham kau urus semuanya dengan direktur Han !". Teriak Reza yang semakin kesal.
"Dasar gila, aku harap dia bertemu harimau yang memakannya dengan lahap" Gerutunya.
Toni pergi ke sebuah kafe untuk beristirahat. Tak sengaja ia bertemu kawan lamanya Gongchan.
"Lah Ton? Toni? Itukah dirimu?" Tanya Gongchan.
"Gongchan? wah sudah lama kita tidak bertemu" ucap Toni yang hendak memeluk Gongchan.
"Aah, jadi itu benar dirimu"Gongchan langsung meninju perut Toni dan membuatnya kesakitan.
“Rasakan itu, kau berani meninggalkanku tanpa kabar. Hahaha" Ucap Gongchan yang langsung menghindar saat Toni akan membalasnya.
"Hyaa!! kau!! Beraninya kau rasakan pembalasanku ??hyaaaa!! Cepat kemari !!" Teriak Toni tapi Gongchan sudah ambil langkah seribu . ^^
Mereka akhirnya makan siang bersama dan saling berbagi kisahnya masing-masing.
"Ton, apa kau sudah memiliki kekasih?". Tanya Gongchan polos.
"Dalam situasiku bukanlah situasi yang memungkinkan untuk memikirkan wanita, setiap hari aku menghadapi masalah dengan atasanku". Jawab Toni.
Gongchan terkekeh mendengarnya.
"Lalu, kenapa kau masih saja bertahan dengan atasan menyebalkan sepertinya?" Tanya Gongchan yang tidak mendapat jawaban.
"Lalu.. bagaimana denganmu hah? Kau memiliki kekasih?´tanya Toni.
"Ada seseorang yang menjadi target masa depanku.. haha" guraunya.
"Siapa dia?" Tanya Toni.
"Dia sangat cantik, dan dia wanita pertama yang kucintai Ton, aku akan mencarinya bahkan ke ujung dunia". Ucapnya dengan senyum lebar.
"Ceileeeh~ jika senyummu sedikit lebih lebar lagi maka mulutmu itu akan sobek !".Ledek Toni pada sahabatnya itu.
Dirumahnya Reza sedang berolahraga disebuah ruangan khusus, perutnya nya yang sispack menandakan bahwa ia orang yang disiplin berolahraga, ditelinganya terpasang airphone yang berisi laporan semua saham luar negri zeus group.
Seseorang membawakan jus apel untuknya.
"Reza, minumlah dulu jus nya ya?" Ujar seorang wanita paruh baya.
“Baik bu, letakkan saja di situ"jawabnya.
"Ayahmu sudah kembali dari jepang, temuilah dia di kantornya".sahut ibunya.
"Iya, baiklah bu"jawab Reza yang terlihat malas.
Ayah Reza yang baru kembali dari perjalanan bisnisnya di Jepang, menunggu kedatangan anaknya yang merupakan pewaris tunggal dari semua kekayaannya.
Saat Reza datang, ia langsung dihadapkan pada berbagai pertanyaan yang membuatnya kesal. Saat hendak pergi ayahnya menyuruh Reza untuk datang ke sebuah restoran besok pukul 9.30 pagi.
"Datanglah bersama ibumu. Ayah akan memperkenalkanmu pada putri pemilik hotel ternama Naura putri dari direktur Chandra" kata sang ayah.
"Apa ayah ingin menjodohkanku lagi? Sudah kubilang~" ucapannya terpotong saat telpon genggam milik ayahnya berdering.
"Pergilah dan jangan membantah lagi". Ucap ayahnya.
Dengan kesal Reza pergi.
Di rumah Tae hee, pagi ini terjadi keributan dari depan kamar Tae hee.
Yoo jin mengetuk kamar Tae hee dengan keras.
"Hya! Kak Tae hee!! Sudah berapa kali aku bilang jangan melukis sampai larut ! Kau tidak tau betapa sulitnya aku membangunkan muu! Cepat bangun kaak!". Teriak Yoo jin ,tapi tidak ada suara apapun dari dalam selain dengkuran Tae hee yang malah menjadi-jadi.
"HEI KIM TAE HEE !! Kau mau mati? Ini sudah jam 9!!" Teriak Yoo jin.
Tae hee sontak terbangun mendengar angka pada jam yang Yoo jin sebut.
"Apa? Jam 9 ? Hya!! Yoo jin kenapa tidak membangunkanku dari tadi hah?! Aishh~ aku benar-benar terlambat".Gerutu Tae hee kesal.
"Kau pikir jariku bengkak kenapa kak? Aku membangunkanmu sejak dua jam yang lalu !!"Teriak Yoo jin yang lebih kesal.
Tanpa basa-basi lagi Tae hee langsung mandi dan ganti pakaian mengingat hari ini ia ada pertemuan klien di sebuah restoran.
Mobil Tae hee melesat dengan kecepatan seribu kuda (lebay)^^ .
Kakinya seolah enggan beranjak dari pedal gas mobil itu, matanya fokus pada setiap lekukan jalan yang lumayan padat.
"Matilah kau Tae hee, ini proyek terbesar dalam hidupku dan aku melewatkannya" gumam Tae hee sambil menyetir seperti orang kesurupan.
Tae hee menginjak rem dengan sisa tenaga yang ia miliki dan langsung berlari ke arah restoran.
"Tunggu dulu, tadi Yoo jin bilang meja nomor berapa? Aihh handphoneku tertinggal lagi, sebentar biar ku ingat" matanya memejam mencari ingatan beberapa jam yang lalu.
Flashback ...
Saat Tae hee mandi, yoo jin yang menjadi managernya memberitahu bahwa klien nya adalah seorang kolektor seni internasional yang ingin bekerja sama dengan Tae hee "dia memesan meja no 9 !".
Flashback end...
"Aaah~ aku ingat sekarang Yoo jin bilang meja no 6". Ucap Tae hee dengan yakin.
Tae hee mengedarkan pandangannya ke setiap meja, untuk mencari meja no 6.
"Ah itu dia, ya ampun rupanya klienku sangat setia menungguku" ucap Tae hee dengan gembira.
"Selamat pagi" sapa Tae hee.
Seorang wanita paruh baya tersenyum padanya.
"Silahkan duduk, nak"jawabnya.
"Maaf karena saya datang terlambat". Ujar Tae hee.
"Kenapa kau begitu segan? Santai saja, lagipula Reza belum juga sampai" ucapnya.
"Reza? Oh jadi nama klienku Reza, pasti dia orang yang baik hingga menyuruh wanita ini menungguku."Batin Tae hee.
Setelah terjebak macet akhirnya Reza sampai di restoran itu dan bergabung dengan ibunya yang sudah memesan the dengan Tae hee.
“Selamat pagi. Saya Reza.” Ucapnya pada Tae hee.
Tae hee tersenyum dan berkata bahwa dia sudah mendengar bahwa Reza adalah kolektor seni internasional yang hebat.
Ibunya langsung tersenyum geli mendengarnya.
"Kau menyebutnya kolektor seni?" Kata ibunya yang menganggap Tae hee sedang bercanda.
Lalu Reza duduk bersama mereka.
"Bagaimana dengan hotel ayahmu?" Tanya Reza.
Kini giliran Tae hee yang tersenyum geli.
"Hotel? Ayah? Haha maaf tapi ayah dan ibuku sudah meninggal dan mereka tidak memiliki hotel"jawab Tae hee.
Kini mulai sadarlah ibu Reza.
"Bukankah kau Naura putri tuan Chandra?"Tanya ibunya bingung.
Tae hee seketika kaget mendengarnya
"Naura? Chandra? Siapa mereka?" Tanya Tae hee lebih bingung.
Lalu, seketika ingatannya kembali dan terngiang teriakan Yoo jin saat ia mandi bahwa klien nya memesan meja nomor 9 tapi ia duduk di meja no 6.
"Aissh isshhh~ kau memalukan Tae hee ! "batin Tae hee.
"Siapa kamu?!" Tanya ibu Reza.
"Ma, maaf tante, sepertinya saya salah meja" Setelah membungkuk Tae hee langsung ambil langkah seribu dan mencari meja nomor 9 yang kini sudah kosong.
Reza yang melihat tingkahnya merasa lucu dan terkekeh geli.
Tae hee pulang dan baru saja ia memegang kembali handphonenya telpon Tae hee berdering dan jeritan Yoo jin sudah menanti di seberang sana.
"Hyaaa! bodoh!kemana saja kau hah? Klien kita membatalkan semua perjanjiannya gara-gara kau!" Teriak yoo jin.
"Apa? aduuh bagaimana ini? Aihhh benar-benar sial".keluh Tae hee.
"Orang itu malah tersenyum saat melihatku dasar menyebalkan"gerutu Tae hee mengingat Reza yang menatapnya aneh dan tersenyum geli melihat tingkah konyolnya.
Di lain tempat Reza sedang berhadapan dengan gadis yang akan di jodohkan dengannya Naura.
"Jujur saja perjodohan seperti ini aku sangat tidak suka, jadi jangan berharap lebih pada pertemuan ini" ucap Reza ketus.
"Bukankah ayahmu yang meminta ayahku membuat perjodohan ini?" Jawab Naura.
"Aah~kau pun sama membosankannya dengan ayahku jadi bagaimana kalau kau menikah saja dengan ayahku?" ucap Reza sambil tersenyum sinis.
Seketika tamparan Naura mendarat mulus di pipi Reza, dan ia langsung pergi meninggalkan Reza yang tersenyum puas dengan gagal nya pertemuan ini.
Dalam perjalanan pulang Reza kembali teringat tingkah Tae hee dan tanpa ia sadari, ia tersenyum membayangkan tingkah lucu Tae hee.
"Kim tae hee" gumamnya pelan.
To be continue .....
Alfie

Komentar
Posting Komentar