YO TE AMO CHAPTER 1
YO
TE AMO
CHAPTER
1
Disebuah istana
kerajaan Alvaro, hadirlah seorang pangeran yang hidup sendiri. Ia hanya duduk
di kamar sepanjang hari menatap keluar jendela namun tak mendapat penglihatan
sedikit pun. Pangeran itu adalah Hans
Alroy Alvaro. Ia adalah pangeran buta yang dikucilkan oleh rakyatnya. Ratu meninggal sesaat Hans lahir. Dan ia diasuh oleh para dayang. Kini Hans sudah beranjak dewasa. Tapi, ia tidak memiliki teman selama ini. Dia lebih suka berdiam diri di kamarnya.
Kamar itu
sangat tertutup dan gelap. Sosok pangeran yang seharusnya bersinar dan tampan
sangat jauh darinya. Hans tidak pernah
keluar dari istana. Raja yang malu akan kebutaannya tidak pernah membiarkan
Hans pergi dari istana. Seluruh rakyat juga tahu bahwa pangeran mereka buta dan
tidak bisa diharapkan untuk masa depan kerajaan ini. Orang-orang selalu
bergosip dan menjelek-jelekkan pangeran.
“Aku tidak tahu apa aku harus tinggal selamanya
ditempat tanpa masa depan ini” kata seorang pedagang.
“Kutukan ini pasti karena pangeran buta itu. Cuihh!”
sahut kawannya.
Suatu
hari tanpa diduga datang seorang utusan dari kerajaan tetangga yang membawa
pesan berupa lamaran untuk sang pangeran. Seisi istana gempar dan kaget atas
berita itu. Lamaran itu ditujukan bagi pangeran dari Putri Carletta. Bahkan raja tidak percaya lalu menanyakan langsung hal ini pada
utusan itu.
“Apakah benar ini dikirim oleh putri dari
kerajaanmu?” Tanya raja.
“Benar yang mulia. Putri meminta kami mengirimkan
lamaran ini langsung” jawab utusan itu.
Raja pun termenung dan mencoba menerima kejadian
ini. Ada rasa senang dan khawatir dalam dirinya. Senang karena jika pernikahan
ini terjadi maka akan berdampak baik bagi masa depan kerajaannya yang akan
semakin kuat. Tapi juga khawatir apabila putri itu tahu kondisi pangeran.
“Dan satu lagi pesan dari tuan putri, dia berkata
bahwa dia tahu pangeran tidak dapat melihat dan dia menerimanya apa adanya”
kata utusan itu lalu pamit pergi.
Berita ini
sampai ke telinga pangeran. Ia senang ada seorang putri yang melamarnya dan
menerima kondisinya. Pangeran yang pemurung itu menjadi ceria dan berusaha
mengubah penampilannya menjadi lebih baik dan enak dilihat.
Aku yang
hanya seorang pelayan di istana Putri Carletta tidak mengerti kenapa putri
secantik dan sesempurna dia mau menikah dengan pangeran buta yang kudengar
tidak memiliki keinginan untuk hidup. Jika aku jadi Putri Carletta, aku lebih
baik tidak menikah dari pada harus menikah dengan pangeran seperti dia.
Namaku
Alice. Setelah orangtuaku meninggal aku menjadi dayang pribadi Putri Carletta
atas permintaan ratu yang dekat dengan orangtuaku. Hidupku sudah lebih dari
cukup bagi seseorang sepertiku. Menerima upah setiap bulan. Dan memiliki seekor
kuda peninggalan ayahku.
Hari ini
aku mendapat libur dan seperti biasa aku akan pergi bermain dengan Roy, kudaku.
“Ayo kita bermain roy ! kita akan mengelilingi hutan
dan lihat sejauh mana kemampuanmu sekarang” aku pergi ke hutan tempat biasa aku
melatih kudaku.
Aku
bersenang-senang dengan roy yang berlari semakin kencang. Seharian aku berkuda dan melatih kemampuan Roy. Lalu, kami berhenti
disebuah sungai jernih untuk sekedar minum dan menyegarkan diri.
Tiba-tiba ku dengar suara langkah kaki. Aku membawa
roy kebelakang semak-semak dan bersembunyi. Roy yang mengerti ucapanku diam tak
bersuara.
Di sana ada dua orang pria aneh dengan gelagat yang
mencurigakan. Mereka selalu melihat ke sekeliling seolah tak ingin ada yang
melihat keberadaannya. Dari belakang mereka, datang seorang perempuan yang
memakai penutup wajah mendatangi dua orang tadi. Aku merasa tidak asing dengan
tinggi dan gelagat perempuan itu.
“Putri Carletta?” dalam batinku.
“Apa kalian membawa barangnya?” tanya perempuan itu.
“Tentu. Ini yang terbaik dan bekerja hanya dalam
waktu lima menit” jawab salah seorang dari mereka.
"Bagus! kalian memang bisa diandalkan" sahut perempuan itu
Tak lama kemudian perempuan itu memberikan sejumlah
uang pada mereka lalu pergi. Aku yang penasaran mengikuti perempuan itu tapi
entah dia menaiki apa karena aku kehilangan jejaknya.
Saat kembali ke istana putri memanggilku dan
menyuruhku untuk segera berkemas dan menyiapkan barang-barangnya.
“Alice, aku ingin kau membawa semua baju terbaikku
dan sepatuku juga. Ah, dan kau juga harus membawa baju-bajumu” kata putri.
“Kita hendak pergi kemana tuan putri ?” tanyaku.
“Raja Alvaro mengundang kita untuk tinggal di
istananya untuk beberapa hari sebelum pernikahanku dengan pangeran”jawab putri.
Dia lalu
memakai gaun yang indah dan bercermin. Terlihat wajah cantiknya yang membuatku
sangat kagum akan ciptaan tuhan yang satu ini. Hidupnya sangat sempurna padahal
kami sama-sama sudah tidak memiliki orangtua. Raja dan ratu meninggal setahun
setelah orangtuaku meninggal.
Keesokan harinya kami sampai di istana Alvaro. Semua orang menyambut
kedatangan kami. Begitu pun dengan raja yang gembira melihat calon menantunya
datang. Di samping raja, pangeran berdiri dengan gagahnya. Ini pertama kalinya
pangeran terlihat oleh semua orang.
Wajahnya tampan dan bersinar. Tubuhnya
tinggi dan matanya berwarna coklat terang. Sejenak aku merasa bahwa sang
pangeran bisa melihat. Seolah dia sedang melihat kearah putri Carletta. Dia
tersenyum.
Mataku seperti tertarik oleh magnet yang membuatku
tidak bisa berhenti memandang pangeran. Aku melihatnya tersenyum. Tapi, hatiku
seolah berkata bahwa dia sedang menangis.
Malam hari ini terasa sangat berbeda. Pangeran
menerawang jauh ke dalam pikirannya. Lalu ada yang mengetuk pintunya. Pangeran
yang sudah tahu tata letak kamarnya berjalan tanpa bantuan apapun kearah pintu.
“Siapa?” Tanya pangeran.
“Ini aku. Carletta calon istrimu. Bisakah kita
bicara?” Tanya Carletta yang langsung menggenggam tangan Hans dan membawanya ke
balkon istana.
Hans tersenyum. Hatinya berdebar. Selama ini belum
pernah ada perempuan yang mengajaknya bicara seperti ini. Ini pertama kalinya
dia merasakan perasaan ini pada orang yang baru ia kenal.
“Ada apa?” Tanya Hans singkat.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu”jawab Carletta.
“Silakan. Sebelum itu aku berterima kasih padamu
karena mau menikah denganku” Hans menundukkan sedikit kepalanya tanda ia
benar-benar berterima kasih.
“Aku menerima kondisimu yang tidak bisa melihat,
lalu apa yang bisa kuterima darimu?” Tanya Carletta yang membuat Hans diam dan
bertanya-tanya.
“Apa maksudmu?” Tanya Hans.
“Apa kau bisa mencintaiku dengan tulus?”tanya Carletta.
“Oh, haha aku pikir kau meminta imbalan atas
pernikahan ini” ucap Hans.
“Tentu aku akan mencintaimu yang tulus menikah
denganku. Pernikahan kita hanya sebulan lagi jadi, jika kau mau tinggalah
disini hingga waktunya tiba” lanjut Hans.
“Benarkah? Wah aku sangat bahagia ! Terima kasih”
kata Carletta yang langsung memeluk Hans.
Hans yang kaget atas perlakuan Carletta membalas
pelukannya dengan senang hati.
Aku bangun dari tidur dan merasa tenggorokanku
sangat kering. Aku keluar dari kamar dan mencari letak dapur untuk minum. Saat
melewati balkon aku melihat tuan putri dan pangeran sedang berpelukan.
“Ya ampun. Aku harus pergi. Kenapa kakiku susah
sekali melangkah lagi”batinku.
Kulihat pangeran dalam pelukan putri. Tentu ini akan
berakhir dengan bahagia seperti kisah cinta yang lain yang pernah ku dengar.
Ada apa denganku. Sebelum pergi kulihat putri sedang tersenyum dalam pelukan
pangeran. Tapi, ada yang berbeda dengan senyumnya kali ini. Itu bukan senyuman
indah yang selalu kulihat dari putri. Itu lebih seperti senyum sinis.
To be continue
Alfie


Nggak sabar baca lanjutannya.. 😊
BalasHapusada masukan buat chapter berikutnya?
Hapus