YO TE AMO CHAPTER 2







                            YO TE AMO
                           CHAPTER 2
                                                                             
“Alice ! bangunlah cepat ! kita harus menghadiri pemakaman” suara Carletta menghancurkan mimpi indahku.

“Siapa yang meninggal putri? hari ini kan saya libur” jawabku.

“Heh ! kau sudah mulai kurang ajar ! Raja meninggal malam tadi!”teriak putri yang sukses membuatku terperanjat dari tempat tidurku.

“Aku pergi duluan. Pangeran sudah menungguku” kata sang putri lalu pergi.

   Ini baru seminggu kami tinggal di istana dan sudah terjadI hal buruk. Raja meninggal akibat serangan jantung. Semua penghuni istana kaget mendengar kematian raja yang terkesan mendadak. Setelah berpakaian rapi berwarna hitam aku lari menuju pemakaman. Disana kulihat pangeran sedang menebar bunga ditemani putri.

   Pangeran merasa terpukul atas kematian ayahnya. Bahkan ia tidak bisa melihat wajah ayahnya untuk terakhir kali. Sejak hari pemakaman, pangeran tidak pernah terlihat keluar lagi dari kamarnya.

    Semua dayang dan pengurus istana tidak ada yang bisa membujuknya keluar. Dia bahkan jarang makan atau minum.

   Putri yang khawatir berusaha datang dan membujuk pangeran. Tidak ada obrolan yang terjadi diantara mereka. Putri perlahan mendekat dan memeluk pangeran.

“Aku tahu kau bersedih, luapkan saja semua emosimu” ucap putri.

Tanpa kata pangeran meneteskan air matanya.

“Mengenai pernikahan kita, apa kita bisa mempercepatnya? Lagipula negeri ini butuh raja baru” lanjut putri.

“Pergilah dulu. Nanti kita bicarakan lagi” jawab pangeran yang terdengar malas. Putri yang merasa kesal langsung pergi dari kamar pangeran.

    Pangeran tahu betul bahwa dengan kematian ayahnya, otomatis sekarang ia akan naik tahta sebagai raja baru. Hanya saja, sepertinya ia belum siap menghadapi berbagai hal yang harus ditanggung oleh seorang raja.

    Beberapa hari berlaru.... 

    Pangeran masih belum juga keluar dari kamarnya. Putri terlihat lelah membujuknya. Desas-desus dan gosip tentang pangeran semakin memburuk. Rakyat beranggapan bahwa kematian raja adalah salah satu kutukan dari pangeran yang buta itu. Bahkan mereka melakukan protes agar pangeran tidak naik tahta.

“Akan sangat memalukan jika raja kita bahkan tidak bisa melihat” kata seorang pejalan kaki.

“Tentu saja, bagaimana ia akan menjalankan Negara sedangkan untuk berjalan saja dia tak mampu tanpa bantuan” kata yang lainnya.

    Pagi ini aku sedang menyiapkan sarapan untuk Putri Carletta. Ia melahapnya dengan elegan seperti biasa. Setelah minum ia memintaku untuk membuat sarapan lagi untuk pangeran. Sarapan yang spesial. Aku yang memang senang memasak tidak masalah dengan permintaannya.

“Apa tuan putri akan menemaninya sarapan?” tanyaku.

“Hah? Oh, tidak. Kau langsung antarkan saja ke kamarnya. Langsung masuk saja! Dia tidak akan menjawab ketukan pintumu” jawab putri.

    Inilah yang menjadi masalah bagiku. Kenapa aku harus mengantarnya. Dia bukan majikanku. Setelah siap, aku memanggil pelayan istana dan menyuruhnya untuk membawa sarapan itu ke kamar pangeran. Tapi, putri malah sedang berada dibelakangku. Hingga terpaksa aku berjalan menuju kamar pangeran.
   
   Aku mengetuk pintu kamar pangeran. Tidak ada respon dari dalam. Teringat perkataan putri, aku langsung masuk saja. Dan betapa terkejutnya saat aku melihat pangeran yang sedang telanjang dada.

“Aaaaa! Siapa kau? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu!”teriak pangeran.

"Apa selain buta dia juga tuli? jelas-jelas tadi aku mengetuk pintunya dengan kencang."batinku. 

Aku yang sama terkejutnya berusaha untuk menjelaskan.

“Aku dayang pribadi Putri. Dia memintaku untuk mengantarkan sarapan ini ke kamar tuan yang mulia” jawabku terbata-bata.

“Dayang macam apa yang tidak sopan sepertimu!” bentaknya yang membuat telingaku panas luar biasa.

  Aku tidak bisa mengontrol emosiku saat itu. Gen ayahku yang pemarah mulai muncul memberontak.

“Hah ! Memangnya calon raja macam apa yang menyusahkan rakyatnya dan pengecut sepertimu !” jawabku sinis dan langsung pergi.

   Dia yang tidak terima dengan ucapanku langsung mengejar dan menghadang jalan keluar. Anehnya dia berjalan sangat cepat dengan kondisinya itu.

“Apa?apa katamu?” tanyanya dengan nada yang marah.

“Ma..maf yang mulia, hamba pantas mati” jawabku.

“Kenapa kau pikir aku pengecut? Ini pertama kalinya ada yang memaki langsung dihadapanku tanpa takut” tanyanya dengan nada mengancam.

“Ampuni hamba, yang mulia. Sungguh hamba pantas mati. Akan tetapi anda adalah raja Negara ini sekarang. Mau tidak mau anda harus menghadapinya sebelum anda kehilangan segalanya. Buta atau tidak bukan alasan anda mengurung diri di kamar tanpa bertanggungjawab seperti ini.” jawabku yang langsung ambil langkah seribu.

    Aku tidak tau apa yang terjadi dengan mulutku ini. Aku yakin putri akan menghukumku kalau dia tahu.

“Ishhh ! bodoh! Kenapa aku seceroboh itu. Aku bisa kehilangan pekerjaanku” batinku.

     Saat acara makan malam putri sudah hadir dengan beberapa pejabat istana. Sepertinya akan ada musyawarah yang sangat penting malam ini. Aku membantu putri berpakaian dan menata rambutnya. 

“Alice, sebentar lagi kita akan pulang.” Kata putri dengan senyum.

“Pu..pulang?” tanyaku penasaran.

“Iya, setelah urusanku selesai disini kita akan pulang” jawabnya.

“Urusan itu, apakah pernikahan anda tuan putri?” tanyaku lagi.

    Putri menggelengkan kepalanya. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi.

“Apa maksud perkataannya?” batinku.

    Aku mencoba berbaur dengan dayang istana untuk menyiapkan makan malam itu. Aku menuangkan air disemua cangkir para tamu.

“Hahaha ! tujuan kita akan segera tercapai tuan putri” kata seorang pejabat.

“Saat perdana mentri mengambil alih tahta maka semuanya akan berakhir” ucap pejabat lain.

“Jangan senang dulu. Kita tidak bisa melanjutkan langkah sebelum pangeran menyerah” jawab putri yang membuatku kaget.

    Tiba-tiba, dari lantai atas terlihat pangeran yang berpakaian rapih dan menuruni tangga perlahan menuju ruang makan. Semua orang terperanjat melihat pangeran keluar dari kamarnya. Pangeran tahu betul suara siapa yang sedang berkumpul itu.

“Wah, rupanya para pejabat ada disini” kata pangeran.

“Yang muliaa. Kami sampaikan bela sungkawa dan datang untuk menemui anda” jawab salah seorang pejabat.
   
    Wajah semua orang berubah sinis. Pangeran mencari putri. Putri yang duduk disampingnya lalu menggenggam tangannya.

“Aku disini. Akhirnya kau mau keluar juga. Aku membantumu mengurusi persiapan peresmian tahta raja.” Kata putri.

     Pangeran tersenyum mendengar kebaikan putri. Ia semakin yakin bahwa Putri Carletta bersungguh-sungguh mencintainya. Pangeran lalu membuat sebuah keputusan.

“Kapan peresmian tahtaku dilaksanakan?” Tanya pangeran pada seorang pejabat.

“Ah itu, itu mungkin minggu depan” jawab putri dengan ragu.

“Hmm baiklah, aku ingin peresmian tahta bersamaan dengan pernikahan kita” ucap pangeran yang sukses membuat putri tersedak.

“A..apa?” Tanya putri yang masih kaget.

“Kenapa? Kau tidak mau? Saat aku sah menjadi raja aku membutuhkan ratu untuk mendampingiku menjalankan kerajaan” jawab pangeran.

     Semua orang terlihat terheran-heran dengan perubahan pangeran yang tiba-tiba.

“Tentu aku setuju. Tapi, apa yang membuatmu begitu cepat mengambil keputusan” Tanya putri.

“Seseorang menyadarkanku dari tingkah bodohku selama ini. Selama ini aku jadi pengecut hanya karena tidak bisa melihat. Tapi, sekarang aku sadar bahwa aku sanggup menggantikan mendiang raja untuk memimpin Negara ini” jawab pangeran dengan semangat.

   Aku yang sedari tadi memperhatikan kejadian ini sangat shock dengan yang pangeran katakana. Nampan yang ada dalam genggaman kedua tanganku tiba-tiba jatuh. Aku kaget. Jantungku terasa hilang. Tapi, ada perasaan senang yang menyelimuti hatiku.

“Kenapa dia menuruti perkataanku?” batinku.

   Cerita baru dimulai setelah keputusan pangeran disebarluaskan pada masyarakat. Semua orang tidak percaya bahwa dalam seminggu akan terjadi peresmian tahta sekaligus pernikahan raja baru. Begitu pun di dalam istana.

    Dikamarnya Putri Carletta mondar-mandir seolah panic. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Tidak ada jalan lain, aku harus melakukannya malam ini” kata putri.

“Melakukan apa?” tanyaku yang sedari tadi memperhatikannya sambil merapikan tempat tidurnya.

“Heh Alice ! sejak kapan kau disitu?” bentak putri.

“Sejak tuan putri pergi ke negeri khayalan” gurauku yang tidak mendapat respon baik.

“Sudahlah kau tidak perlu ikut campur!” teriaknya lagi.

    Sebelum pergi dengan terburu-buru, putri tidak sengaja menjatuhkan sesuatu dari bajunya. Aku mendekat dan mendapati sebuat botol kecil berisi air putih yang terlihat aneh. Curiga dengan benda itu, aku meneteskan sedikit airnya ke dalam wadah kecil. Aku mengejar putri dan mengembalikan botol itu.

  Aku pergi ketempat tabib istana dan menanyakan air apa yang kuberikan padanya itu. Tabib sedikit terkejut dan tahu betul air apa itu.

“Apa? Air apa itu?”tanyaku tak sabar.

“Racun” jawab tabib itu singkat.



To be continue...



Alfie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNSUR-UNSUR PAGELARAN DRAMA

CARA MENYEMAI BENIH CABAI PAPRIKA DENGAN TEKNIK HIDROPONIK

HUJAN DIMALAM JUM'AT