YO TE AMO CHAPTER 3
YO TE AMO CHAPTER 3
“Racun. Air
ini adalah racun yang diambil dari tanaman paling beracun di hutan terlarang” kata
tabib istana.
“Mungkinkah
dia akan meracuni pangeran?” batinku.
Aku berlari
menuju istana untuk memperingatkan pangeran. Tapi, kulihat di gerbang istana
sudah banyak prajurit yang sudah siap untuk menyerang istana dipimpin para
pejabat yang hianat. Tak ku sangka putri Carletta yang merencanakan
pemberontakan ini dan bahkan dialah yang membuka gerbang istana untuk
penyerangan.
Aku berlari
dan mencari jalan lain untuk masuk ke dalam istana. Lalu, di belakang taman ada
sebuah jalan kecil yang mengarah ke dapur. Aku langsung masuk dan mencari
pangeran.
Pangeran
rupanya tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar istana. Aku tanpa berpikir
panjang langsung masuk ke kamarnya dan menarik tangannya untuk pergi.
“Ikut saya pangeran, cepat !” kataku dengan
nafas yang hampir habis.
“Ada apa
ini, kamu mau membawaku kemana, lepaskan!” bentak pangeran sambil menepiskan
tanganku.
“Saya Alice
dayang putri Carletta. Sudah tidak ada waktu !biar nanti ku jelaskan. Sekarang
kau ikut aku cepat !” kataku yang sudah tidak memakai bahasa sopan saking
kesalnya.
Aku
menyelundup bersama pangeran dan membawanya keluar dari istana untuk
menyelamatkan nyawanya. Saat di pintu dapur istana ada beberapa prajurit yang
datang dan aku langsung membekap mulut pangeran dan membawanya sembunyi di
belakang pintu.
#Degh jantungku tak terkendali.
Tubuh kami
berhadapan tanpa jarak. Wajah kami pun hampir saling menyentuh jika tidak
terhalangi oleh tanganku yang membekap pangeran. Pangeran terlihat bingung
dengan apa yang terjadi.
“Ya ampun,
kenapa disaat genting seperti ini jantungku malah berdegup hebat saat menatap
wajahnya.” Batinku.
Setelah
prajurit berlalu, aku langsung menarik kembali tangan pangeran dan membawanya
kabur dari istana. Kami terus berlari dan menjauh dari istana.
Pangeran
kesulitan menggerakan kakinya karena tidak bisa melihat apapun. Aku meyakinkan
pangeran bahwa jalan yang kita lalui hanya padang rumput sehingga tidak ada
kemungkinan untuk terjatuh.
Di istana
para penghianat terus melakukan pembantaian dan mencari pangeran tapi tidak ada
satupun yang melihat keberadaan pangeran.
Putri
Carletta mendatangi kamar pangeran dengan beberapa prajurit tapi pangeran sudah tidak ada dimanapun.
Akhirnya putri
Carletta dan para pejabat penghianat itu mengumumkan bahwa pangeran telah tewas
akibat bunuh diri dengan meminum racun yang sengaja diletakkan putri Carletta
dalam laci lemari pangeran.
Putri
Carletta ditunjuk sebagai ratu bagi kerajaan Alvaro. Dia pun menggabungkan
kerajaannya dengan kerajaan Alvaro menjadi kerajaan Verandra yang merupakan
nama leluhur putri Carletta.
Rakyat
kerajaan Alvaro sama sekali tidak berduka atas kabar meninggalnya pangeran,
mereka justru senang karena pangeran yang buta itu sudah tiada.
Putri
Carletta berubah menjadi jahat dan kejam, ia menjalankan istana dengan
sewena-wena. Dan kini rakyat menderita kelaparan dan banyak yang meninggal
karena wabah penyakit.
Aku masih
terus berlari dengan pangeran. Hingga sampailah kami disebuah gubuk ditengah
hutan terlarang. Aku rasa kami sudah berlari sangat jauh dari istana hingga
sudah saatnya kami beristirahat. Aku yang sangat kelelahan sudah akan terlelap
tidur jika tangan menyebalkan pangeran tidak menarik rambutku dengan kasar.
“Sekarang
jelaskan padaku apa yang terjadi di istana hingga kau berani membawaku pergi
dari istana?apa mungkin kau mau menculikku?” ucapnya tanpa menghela nafas.
“Hah? Menculik?
Untuk apa aku menculikmu? Justru kau harusnya berterima kasih padaku !” jawabku
sinis.
“Lalu apa
alasannya?” tanyanya lagi.
“Putri dan
para pejabat sedang menyerang istana habis-habisan dan ingin membunuhmu dan
mengambil alih tahta. Aku rasa putri sudah merencanakan ini sejak lama sebelum
ia mengirim lamaran padamu” ujarku dengan malas dan langsung bersiap tidur.
Malam itu
pangeran tidak tidur sama sekali. Ia hanya diam membisu mencerna yang telah
terjadi.
“Teganya dia
menghianatiku”batinnya.
“Apa mungkin
dia jugalah yang membunuh raja?”pikir pangeran.
Keesokan
harinya aku bangun dengan malas karena tubuh yang pegal semua dan rasa kantuk
yang masih menyerang mataku.
Perlahan ku buka kedua bola mataku dan tak kulihat
pria yang kubawa kabur semalam. Aku berdiri dan mencarinya. Pangeran hilang
begitu saja.
Aku berlari
kesana-kemari tapi tak juga kutemukan pangeran. Hingga sampailah aku disebuah
jurang terjang di pinggir hutan.
Aku melihat pangeran berdiri tepat dipinggir
jurang itu hendak menjatuhkan dirinya. Aku yang shock untuk kesekian kalinya
langsung berlari dan menarik baju pangeran dan membawanya jauh dari jurang.
Aku yang
sangat kesal dan lepas kendali langsung menamparnya dengan sangat keras.
“Apa yang
kau lakukan hah? Setelah aku menyelamatkanmu sejauh ini apa kau akan membuatnya
sia-sia?” teriakku didepan wajahnya.
“Siapa?siapa
yang menyuruhmu menyelamatkanku?biar saja aku mati dari pada hidup dengan penderitaan” kata pangeran lesu.
“Apa?apa kau
bilang? Dengar ya ! Jika aku bisa memilih aku akan memilih untuk mengubur hidup-hidup
seseorang yang tidak tahu diri sepertimu ! apa kau benar seorang calon raja?”
bentakku.
“Aku tahu
hidupmu sangat sulit tapi, semua tidak akan berakhir hanya jika kau mati !
rakyatmu membutuhkanmu!”. Aku mencoba menyadarkannya.
“Mereka
membutuhkanku? Hah! Omong kosong! Justru merekalah yang ingin aku mati !
mereka sama sekali tidak menginginkan pangeran buta sepertiku !” jawab pangeran
Hans yang mulai emosi.
“Kenapa?Kenapa
kau menyelamatkanku? Sebenarnya apa tujuanmu menyelamatkanku?” Tanya pangeran
Sejenak
suasana hening seketika saat pangeran hendak pergi dari tempat itu. Tapi,
langkahnya terhenti saat mendengar jawabanku.
“Karena aku
menyukaimu…” jawabku lirih.
To be
continue....
Alfie

eaakkkk... ini mirip dongeng pengantar tidur ya
BalasHapus