YO TE AMO CHAPTER 4
Setahun berlalu sejak pelarianku dengan pangeran Hans. Kami tinggal bersama disebuah desa. Pangeran Hans mencoba untuk bertahan hidup
dengan bantuan Alice dan mengatur rencana untuk mengambil kembali tahta
kerajaan. Hans duduk dibawah pohon dan memikirkan cara untuk ia kembali ke
istana Alvaro.
Aku
melihatnya dari jauh dengan penuh kasih sayang. Entah sejak kapan perasaan ini
hadir dalam hatiku untuknya. Yang kuyakini saat ini adalah bahwa aku sangat
menyayanginya. Meskipun awalnya aku membenci sikap putus asa yang ada pada
dirinya.
Aku
mendekati Hans. Menutup kedua matanya dan mengajaknya ke suatu tempat.
“Hei, kau
mau mengajakku kemana?” Tanya Hans.
“Nanti kau akan tau” jawabku.
Entah sejak
kapan status kerajaan itu hilang diantara kami, aku hanya memanggilnya Hans dan
dia memanggilku Alice.
“Aku tau
hidupmu lebih sulit dari orang lain dengan kondisi matamu. Tapi, meski kau
tidak bisa melihat kau masih bisa mendengar dengan telinga dan hatimu akan
menunjukan arahnya” ucapku padanya seraya membawanya kesebuah padang rumput
yang luas.
Kami berseberangan dengan air terjun yang sanga indah.
Hans tak
bergeming. Ia hanya berusaha mendengarkan ucapanku.
“Sekarang
apa yang kau dengar?” tanyaku.
“Suara air
terjun, angin, kicauan burung” jawab Hans.
“Sekarang
gunakan hatimu dan rasakan setiap hembusan angin yang menyentuh seluruh
tubuhmu, apa yang kau rasakan?” tanyaku.
“Nyaman”
Jawabnya sambil tersenyum.
Aku ikut
tersenyum mendengar jawabannya. Raut wajahnya sangat cerah dan bersinar saat ia
tersenyum. Wajah rupawan yang ia miliki selama ini tersembunyi dibalik ketakutannya akan dunia yang menyeramkan ini.
“Baguslah. Alam
ini akan selalu memberimu ketenangan dan kenyamanan kapanpun kau butuh. Kau
tidak perlu lagi merasa dunia ini tidak adil. Nikmati saja yang tersisa” Ucapku
sambil menepuk pundaknya.
“Siapa yang
bilang aku nyaman karena hembusan angin?” Tanya Hans.
Aku
merasakan tangannya menggenggam tanganku.
“Aku nyaman
karena disaat tersulit seperti ini, seseorang dengan hati baiknya mau
menemaniku dan menyemangati hidupku” Kata Hans.
Jika ada
hari yang paling indah dalam hidupku, mungkin hari inilah yang paling indah.
Tak kusangka seorang pangeran mengucapkan kalimat seromantis itu untuk
seseorang sepertiku.
“Alice?”
tegur Hans yang membuyarkan lamunanku.
“Oh, kenapa?”tanyaku.
“Apa kau
mendengarkanku?” tanyanya lagi.
“Oh tentu,
aku mendengarnya. Lalu apa rencanamu untuk merebut kembali tahta?” tanyaku
penasaran.
Hans
menunduk dan berpikir sejenak.
“Aku sudah
tidak menginginkan tahta ataupun kekayaan. Sekarang aku cukup bahagia
bersamamu. Menikahlah denganku Alice. Kita akan hidup bahagia walaupun tanpa
tahta kerajaan” Ucap Hans yang sontak membuat jantungku berdegup kencang.
“Apa?dia
melamarku?” batinku.
“Jawablah
Alice” kata Hans.
“Iya, aku
bersedia menikah denganmu Hans” jawabku gemetar.
Aku malu
menjawab pertanyaannya.
Akhirnya
kami menikah. Dengan pakaian dan acara sederhana, kami mengikrarkan janji
sehidup semati sebagai pasangan suami istri.
Seorang
pangeran yang menikahi seorang pelayan mungkin sudah bak Cinderella bagiku. Aku
berpikir kami memang akan bahagia meski dalam kesederhanaan ini. Tapi, rupanya
justru ini awal penderitaan yang harus kualami.
Dua bulan
setelah kami menikah, seseorang mengenali Hans sebagai pangeran dan berkata
bahwa kerajaan Alvaro sedang dalam masa kritis. Rakyat dipaksa bekerja tanpa
upah. Penyebaran wabah penyakit dan kelaparan dimana-mana.
Dia memberitahu
bahwa ratu Carletta menjalankan kerajaan dengan sangat otoriter hingga membawa
kesengsaraan bagi rakyat.
Hans bingung
harus berbuat apa. Aku hanya bisa mendukung apapun keputusannya.
“Besok aku
akan pergi menemui Carletta” ucap Hans.
Aku hanya
mengangguk menyetujui keputusannya.
Aku sangat
khawatir dengan keselamatan suamiku. Aku sangat tahu otak picik Carletta.
Akhirnya saat malam tiba aku menemui seorang dukun disebuah desa. Aku memintanya
menukar mataku dengan mata Hans, dan memberikan Hans kekuatan untuk melawan
seribu prajurit dengan mengambil sebagian jiwaku. Dukun itu menyetujuinya
dengan syarat jika Hans tidak kembali untukku maka, setengah jiwaku akan hilang
dan kematian akan mendatangiku. Aku menyetujuinya.
Malam itu
menjadi malam yang panjang bagiku diiringi penglihatanku yang semakin gelap.
Aku diantar dukun itu pulang. Pagi hari Hans terperanjat kaget saat ia membuka
matanya dan ia bisa melihat. Tanpa banyak bertanya, Hans bersiap pergi ke
istana sedangkan aku berpura-pura masih tidur dan hanya mengiyakan saat ia
hendak pamit.
“Segeralah
pulang setelah urusanmu disana selesai” ucapku.
Hans
mengecup keningku lalu pergi.
Aku bangun
dan berusaha menggapai apapun yang bisa membantuku berjalan. Badanku terasa
sangat lemas. Hingga aku hanya bisa terduduk dalam diam.
Hans pergi
bersama beberapa orang yang mengadu padanya. Ia mungkin harus menghadapi
Carletta, para pejabat, dan prajurit istana. Aku hanya bisa mendo’akannya dari
jauh.
Waktu
berlalu sangat cepat hingga sudah sebulan sejak Hans pergi tapi sama sekali tak
ada kabar darinya.
Aku pergi ke
pasar dan mendengar bahwa ratu Carletta dan pangeran Hans akan segera menikah.
Jantungku
sudah tak berdaya. Aku terkulai lemas diantara banyak orang yang berlalu
lalang.
“Apa
sebenarnya yang terjadi?” batinku yang terasa perih.
To be continue ...
Alfie
note : penulis lagi suka menghayal, maafkan kalau banyak yang tidak masuk akal , hehe.

Komentar
Posting Komentar