SEBUAH MEMORI DALAM SELUAS INGATAN chapter 3

Image result for ukhuwah kartun  






KELUARGA KEDUA

    Hari ini adalah hari gajian bagi karyawan diperusahaan tempatku bekerja. Sudah sebulan lebih sejak kami datang, dan ini adalah gaji pertama kami. Sejak datang kesini aku, Meli, dan Nur tidak pernah pergi kemanapun, dan hanya bisa mendengar kawan-kawan kami yang asyik pegi ke mall, keliling kota Ipoh, bahkan pergi ke tempat wisata.
Setelah mengambil uang gaji pertama kami, kami memutuskan untuk berbelanja disebuah mall. 

    Kami awalnya berniat hanya membeli beberapa kebutuhan sehari-hari saja, dan menyimpan sisa uang kami untuk ditabung. Ini pertama kalinya kami keluar asrama. Kami memesan sebuah taxi, dan pergi dengan begitu gembira. Hingga sampailah kami di mall itu, dan langsung mengambil troli belanja. Karena ini pertama kalinya kami melihat pusat perbelanjaan yang luar biasa mewah dan dipenuhi berbagai macam barang, akhirnya kami lupa tujuan awal kami datang kesini.

     Aku yang memang senang membeli pakaian, membeli beberapa stel pakaian dan mukena serta barang lainnya. Meli yang sangat suka membeli kosmetik herbal pun tak tanggung-tanggung membeli beberapa kosmetik yang harganya cukup mahal, begitu pun dengan Nur yang juga membeli banyak barang, dan berakhir dengan membeli beberapa makanan dan cemilan.

     Saat melihat jumlah angka dimesin kasir kami baru sadar bahwa kami kebobolan saat berbelanja dan hampir menghabiskan uang gaji kami dalam sehari, sesampainya diasrama kami bertiga hanya diam termangu menatap belanjaan yang begitu banyak dan uang yang hampir habis, kami sama-sama lupa bahwa kami seharusnya menabung sebagian besar uang gaji kami, akhirnya kami hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi akibat kesalahan yang sama yang kami lakukan.

    Jangan Tanya apa yang terjadi pada gaji kami di bulan-bulan selanjutnya. Karena tanpa ragu kejadian yang sama akan terulang hingga kami benar-benar menyesal.

    Suatu hari, seperti sebuah kebetulan orangtua kami sama-sama membutuhkan uang, baik aku, Meli, dan Nur dituntut untuk membiayai keluarga kami, tapi saat itu kami memang sedang tidak memiliki uang, hingga munculah ide untuk merolling gaji kami.

    Pada bulan pertama Meli dan Nur memberikan sebagian gajinya padaku, dengan jumlah tertentu untuk disatukan dengan gajiku dan dikirim ke Indonesia, bulan kedua kami lakukan itu untuk kebutuhan pengiriman Meli, lalu terakhir  Nur hingga semua masalah keuangan kami selesai.

    Di negeri yang cukup jauh dari rumah, kami hanya bisa saling mengandalkan satu sama lain dalam segala masalah yang kami hadapi.
Suatu hari aku sakit selama beberapa hari, Meli dan Nur lah yang setia merawatku hingga aku kembali sembuh, saat itu malah aku berpikir bahwa seperti inilah hidup jauh dari orangtua yang selalu merawat dan menjagaku dari kecil, dan sudah sepantasnya aku berbakti pada mereka. Tapi, disisi lain Allah dengan baiknya menggantikan kesendirianku dengan memiliki dua orang sahabat yang luar biasa.

    Persahabatan kami tidak selamanya berjalan lancar, pernah suatu ketika aku menjadi sombong karena memiliki kawan baru orang Malaysia asli, aku menjadi lebih sering bersama dengannya dan menjauh dari Meli dan Nur, tapi kemudian kawan baruku itu hendak pergi dan melanjutkan kuliah, saat itu aku sendiri dan berpikir ingin kembali pada dua sahabatku tapi, mereka saat itu sedang kesal, hingga dalam jarak beberapa hari kami bertengkar dan tidak saling bertemu.

    Suatu hari saat pulang shift pagi, sore itu aku berjalan menuju loker berdua dengan Nur karena aku belum akur kembali dengan Meli. Karena hari itu kami gajian, dan kebetulan aku dan Nur sudah tidak memiliki uang, kami memutuskan untuk pergi ke ATM perusahaan dulu sebelum pulang, dan ternyata disana sudah banyak orang yang mengantri didepan ATM. Aku dan Nur terpaksa ikut mengantri diurutan paling akhir.

    Setelah tiba giliranku yang terakhir, Nur kaget saat melihat bis karyawan kami sudah mau pergi meninggalkan pabrik sedangkan, kami masih belum menyimpan barang-barang kerja kami kedalam loker. Saat itu juga, aku langsung menggenggam tangan Nur dengan kuat dan membawanya berlari sekuat tenaga menuju loker yang cukup jauh melewati beberapa lorong dari ATM perusahaan itu.

    Layaknya adegan difilm india kami bergantian tarik menarik sambil berlari kearah loker. Barang-barang yang tidak boleh kami bawa pulang adalah smock yang berupa baju kerja mirip jas hujan, dan sepatu khusus area kerja.

    Karena terburu-buru aku lupa memasukkan smock milikku kedalam loker dan hanya mengambil tas pribadiku dari dalam loker, saat tiba di pintu keluar pabrik menuju bis yang sudah melaju satu persatu seorang satpam melihat smock yang kubawa dan menyuruhku untuk kembali ke loker, karena waktu yang sudah tak memungkinkan, aku kembali ke loker tapi memasukan smock milikku kedalam tas pribadiku dan langsung berlari menaiki bis paling belakang dengan Nur.

    Sialnya bis itu justru malah maju dan akan melewati satpam yang tadi menegur dan mengejarku, aku dan nur berusaha menyembunyikan wajah kami dibawah kursi bis dekat pintu karena bis memang sudah penuh dan pulang dengan perasaan yang teramat tegang.


    Setiap kali libur panjang, aku, Meli, dan Nur selalu menghabiskan waktu bersama dari pagi hingga malam. Melakukan banyak hal bersama mulai dari mencuci pakaian, sarapan, beli ice cream, makan siang, nonton drama, olah raga, hingga bergadang bersama untuk sekedar menghabiskan waktu.

“Malam ini kamar Meli kosong, teman sekamarnya kerja shift malam semua, gimana kalo kita gadang sampe pagi?” ujarku.

“Aku setuju” jawab Nur.

“Kalau aku sih yes” kata Meli dengan antusias.

   Malam itu aku dan Nur membeli bakso diluar asrama, tanpa Meli yang memang tidak akan makan makanan berat saat malam. Kami pun menonton drama sambil makan bersama, menghabiskan seluruh malam dengan banyak cerita selama kerja yang kadang kami jadikan lelucon.

“Eh ngeuh gak sih kalo setiap weekend kita gak pernah liburan kemana-mana selain asrama sama mall?” Tanya Meli.

“Iya juga ya, kalo gitu gimana kalo besok kita wisata ke gunung lang?” jawabku yang langsung mendapat persetujuan dari mereka.

    Keesokan harinya kami berkumpul dan membawa beberapa bekal makanan dan minuman sebelum akhirnya kami berangkat ke gunung lang.

   Setibanya disana kami disuguhkan pemandangan yang cukup indah, untuk merefresh otak kami yang sangat penat dan lelah menjalani aktifitas keseharian bekerja. Kami menaiki sebuah perahu menuju pulau kecil. Disana kami makan bersama, sambil menikmati pemandangan alam yang tersaji. Tidak lupa kami mengabadikan kebersamaan kami dengan berfoto bersama. 

    Meski kami bertiga memiliki banyak kawan selama disana, anehnya kami lebih nyaman satu sama lain saat bertiga, seolah ada perasaan nyaman dalam diri kami. Dalam keheningan itu, kami sama-sama merenung hingga akhirnya Meli memecahkan keheningan.

“Teh Al, kok rasanya ada yang kurang ya dalam keseharian kita ini. Mel rindu ngaji” ujarnya pelan.

    Aku dan Nur pun merasakan hal yang sama, bahwa kami merindukan pengajian yang biasanya ada di kampung dulu.



    Sebulan kemudian, setelah beberapa kali kami mencari informasi mengenai kemungkinan adanya majlis taklim, atau pengajian disekitar asrama atau perusahaan, akhirnya kami bertiga dipertemukan dengan salah seorang kawan baru bernama Rida dan Maya, mereka mengajak kami untuk ikut kesebuah pengajian di sebuah tempat di kota Ipoh. 

   Akhirnya kami memutuskan untuk bergabung dan akan pergi kesana di weekend berikutnya.

    Hari itu kami bersiap untuk pergi ke kediaman umi Rusni, guru ngaji yang akan menjadi guru kami. Ini pertama kalinya kami pergi menggunakan bis umum. Setelah dua kali naik bis, aku, Meli, Nur, kak Rida, Dan kak Maya harus naik taxi untuk sampai ketempat mengaji itu.
Kami pun membagi dua grup untuk dua taxi, aku bersama Meli dan kak Maya. Dan Nur bersama kak Rida. Grupku sampai duluan ditempat umi Rusni, tapi setelah beberapa saat menunggu Nur dan kak Rida belum sampai juga. Akhirnya kak Maya menelpon Kak Rida.

“Rida, kalian dimana dek?” Tanya kak Maya.

“Kak May, kami nyasar ke jurang!” jawab kak Rida yang sontak membuat kami terperanjat.

“Jurang mana dek?kami kesana sekarang” Tanya kak Maya khawatir.

“Sudah dekat dengan lokasi tapi salah ambil jalan buntu dan jurang” jawab kak Rida.

   Kami sebenarnya tidak bisa menyusul mereka karena taxi yang kami naiki sudah pergi. Perasaan cemas semakin terasa saat kami sudah tidak bisa menghubungi kak Rida, aku segera mencari kendaraan yang mungkin bisa kami naiki untuk menyusul kedua orang kawanku itu. Tapi, rupanya situasi sudah tidak terlalu buruk lagi.

Akhirnya kak Rida dan Nur sampai dengan nafas terengah-engah.
“Kamu gak apa-apa Nur kak Rida?” tanyaku.

“gak apa-apa teh Al, Cuma kaget aja” jawab Nur.


    Itulah perjalanan pertama kami menuju hijrah dan sebuah perubahan, setelah itu setiap minggunya kami selalu menghadiri acara pengajian, dan membentuk sebuah komunitas muslim di asrama, hingga kami memiliki guru pribadi untuk komunitas kami yang kini sudah semakin berkembang. 

    Kini kak Yuni, seorang guru agama yang sedang menyelesaikan kuliah S2 disinilah yang selalu mengisi pengajian kami, yang bernama LIQO setiap minggu yang akan dihadiri muslimah Indonesia yang bekerja disana.

    Awalnya aku, Meli, dan Nur masih berpakaian seadanya, rok biasa, kaos lengan panjang dan jilbab pendek. Tapi, setelah mengenal beberapa kawan dari komunitas muslim perusahaan lain yang berpakaian sangat syari, akhirnya sedikit demi sedikit kami pun mulai merubah cara berpakaian kami kearah yang lebih syari.

   Kami mulai rutin kembali sholat berjamaah, mengaji al-quran, dan membaca buku-buku islam. Kami mulai mendekatkan diri pada Allah hingga kehampaan kami mulai terisi dengan kehangatan ukhuwah.

“Aku mulai nyaman dengan semua ini” ujar Meli.

“Iya, aku juga sama Mel” jawabku dan diiyakan oleh Nur.

    Kami bertiga tidak pernah menyangka bahwa pertemuan kami akan merubah banyak hal dalam kehidupan ini. Merubah sesuatu dalam diri kami kearah yang lebih baik lagi. Kami saling mendukung dan saling merangkul saat mengalami kesulitan yang ada.

    Suatu hari sepulang pengajian, Kami dengan kawan lain berlibur sebentar kesebuah pantai di Teluk Batik. Hari itu aku menyadari bahwa, akan selalu ada orang-orang baik jika kita mau merubah diri di lingkungan yang baik.

    Saat oranglain sibuk pergi ke diskotik, tempat karaoke, dan bergaul sebebas mungkin karena jauh dari keluarga. Kami justru menemukan keluarga baru yang kehadirannya membuat kami semakin nyaman dan aman walau jauh dari keluarga kami di kampung halaman.



To be continue…



Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNSUR-UNSUR PAGELARAN DRAMA

CARA MENYEMAI BENIH CABAI PAPRIKA DENGAN TEKNIK HIDROPONIK

HUJAN DIMALAM JUM'AT