SEBUAH MEMORI DALAM SELUAS INGATAN chapter 4
DUKA TERDALAM
Perjalanan kami selama dua tahun hampir selesai.
Baik Aku, Meli, dan Nur memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja kami
di Malaysia.
Kami merasa sudah cukup lama merantau. Bagi orang suku sunda
seperti kami, terlalu lama jauh dari keluarga adalah hal yang sangat sulit.
Rindu yang terpendam sudah kami tahan selama dua tahun terakhir ini.
Kami belum ada rencana apapun setelah pulang ke
Indonesia, aku dan meli mulai berpikir untuk berbisnis online, dan Nur
berencana mengelola kebun milik keluarganya.
“Gimana kalo kita jualan pakaian muslim saja?”
tanyaku pada Meli.
“Ide bagus, kita rencanakan ulang setelah di
Indonesia ya teh Al?” jawabnya.
“Oke” kataku singkat.
Empat bulan sebelum kepulangan kami ke Indonesia,
kami mendapat dua ujian yang berturut-turut. Pertama, saat keistiqomahan kami
diuji. Saat itu orang-orang mulai bergosip tentang penampilan kami yang berbeda
dari sebelumnya.
“Kalian itu aliran apa?” tanya salah seorang kawan
padaku.
Aku berusaha menjelaskan alasan kenapa kami berubah.
Tapi, kehidupan memang tidak lengkap tanpa masalah. Meski banyak yang ikut
masuk kedalam komunitas muslimah yang kami bentuk. Tak sedikit pula yang tidak
suka dan mencerca setiap kegiatan keagamaan kami.
“So alim !” kata salah seorang karyawan.
Aku dan kawan yang lain juga membuka kesempatan bagi
kawan-kawan satu perusahaan yang ingin belajar mengaji. Kami semampunya
berusaha saling membantu dalam kebaikan.
“Berlomba-lomba dalam kebaikan”. Itulah yang selalu
kami tanamkan dalam hati, setiap kali mengadakan acara keagamaan.
Mulai dari peringatan Maulid nabi Muhammad, Isra
miraj, Atau saat bulan ramadhan kami akan mengadakan sholat tarawih berjamaah.
Setelah beberap kali mengajukan permintaan pada pihak asrama, kami juga
akhirnya diberi sebuah ruangan, yang digunakan sebagai mushola di asrama kami.
Suatu hari, kami diminta kak Yuni untuk datang ke
Universitas tempatnya menimba ilmu untuk mengadakan kajian rutin disana, pagi
itu kami sudah bersiap pergi setelah sebelumnya kami membagi tugas untuk memberi
informasi kepada anggota lainnya, mengatur transportasi, dan mengatur keuangan.
Setelah semuanya berkumpul kami pun satu persatu
memasuki bis yang sudah kami sewa untuk pergi ke lokasi pengajian. Tapi, aku
melihat ada yang berbeda dengan gelagat sahabatku Nur. Dia cenderung murung dan
sedikit bicara.
Aku langsung membicarakannya pada Meli.
“Mel, kayanya ada yang salah dengan Nur” ujarku
sedikit berbisik pada Meli.
“Ah, perasaan aja kali teh” jawabnya.
Aku yang masih merasa ada yang tidak beres langsung
mendekati Nur perlahan dan bertanya padanya dengan hati-hati.
“Nur, kamu baik-baik aja kan?” tanyaku.
Wajahnya muram, matanya sedikit merah seperti habis
menangis, hidung dan pipinya pun memerah seolah menahan emosi yang tak bisa ia
luapkan.
“Nur gak apa-apa kok teh Al” jawabnya dengan tangan
yang sedikit gemetar.
“Nur, kamu jangan bohong, aku tahu ada yang salah”
tanyaku lagi.
“Beneran aku gak apa-apa” jawabnya.
Aku malah semakin khawatir terjadi sesuatu padanya.
“Apa kamu kurang enak badan? Kalau iya, kamu tidak
usah ikut saja” tanyaku sambil menariknya menjauh dari kawan-kawan yang lain.
Melihat kami hanya berdua, akhirnya Nur mengatakan
alasannnya bersedih hari ini.
“Ayah Nur sudah meninggal dunia tadi subuh teh Al”
ujarnya yang kini sudah tak bisa membendung lagi tangisannya.
Aku sangat terkejut dengan pernyataan Nur yang
begitu mendadak, tanpa ragu kupeluk Nur dan ia pun menangis di pundakku. Sepoi
angin seolah mengiringi kesedihan yang dialaminya, duka yang tak pernah ia
bayangkan akan terjadi saat ia jauh dari rumah.
“Innalillahi wainnailaihi roojiun, sabar ya Nur”
ujarku sambil memeluknya.
“Nur juga gak nyangka akan secepat ini teh Al.
Padahal baru kemarin Nur bicara dengan Ayah di telepon” ujarnya terisak.
Aku hanya bisa terus memeluknya, hingga akhirnya
Meli datang dengan penasaran.
“Kalian kenapa?” tanyanya.
“Mel, Ayahnya Nur meninggal dunia” jawabku.
Nur buru-buru mengusap air matanya dan memintaku dan
Meli untuk jangan beritahu yang lain dan melanjutkan rencana kami pergi ke
pengajian. Aku mengerti bahwa mungkin jika yang lain tidak tahu, akan sedikit
meminimalisir ucapan bela sungkawa yang akan semakin membuatnya terluka.
“Nggak, kamu gak usah ikut Nur, kamu istirahat aja
ya?” kataku pada Nur.
“Iya Nur, nanti malah gak enak juga ngajinya” timpah
Meli.
“Nggak ah, Nur mau ikut aja, lagian kalau diasrama
nanti malah kepikiran” jawab Nur dengan penuh ketabahan.
Akhirnya kami pun berangkat menuju lokasi pengajian.
Di dalam bis aku masih khawatir dengan Nur, aku dan Meli terus mengawasi Nur
dari kursi yang bersebelahan.
Kami melihat Nur hanya menatap kosong kearah
jendela sambil terus meneteskan air mata yang dengan susah payah ia tahan.
Tangannya sedikit menggenggam erat bajunya menahan emosi kesedihan yang coba ia
padamkan. Bahkan terkadang tangan itu sedikit membekap mulutnya untuk tak
bersuara dan terisak. Hati kami penuh duka hari itu.
Dalam situasi kami, memang sudah menjadi resiko
terbesar saat ada anggota keluarga yang meninggal, kami tidak bisa menyaksikan
bahkan hadir saat pemakaman, itu pula yang Nur sadari dengan ikhlas. Bahwa ia
harus tabah melepaskan kepergian ayahnya tanpa kehadiran dirinya untuk melihat
ayahnya yang terakhir kalinya.
Baik aku, Meli, Nur bahkan kawan-kawan yang lain
yang pernah merasakan merantau ke luar negeri, pasti tahu bahwa konsekuensi
dari keputusan yang kami ambil dalam langkah menjauh dari keluarga yang paling
sulit adalah kematian.
Sepulang dari pengajian aku dan Meli masih berusaha
menghibur Nur.
“Apa kamu mau Alfie mintakan ijin ke personalia,
untuk pulang cuti ke Indonesia dan menghadiri acara tahlil ayahmu Nur?” tanyaku
untuk membuatnya berhenti bersedih.
“Iya Nur, kalau kamu mau pulang dulu, pulang
aja”sahut Meli.
Nur diam sejenak, dimatanya tersirat bahwa ia sangat
ingin segera pulang sesaat setelah mendengar kabar kematian ayahnya.
“Nggak usah, beberapa bulan lagi juga kan kita
pulang, tanggung, dan gak bakal diijinin juga sama perusahaan” jawab Nur yang
lagi-lagi membuatku dan Meli menangis takjub akan ketabahan yang dimiliki oleh
sahabat kami ini.
Waktu terus berjalan, perlahan Nur sedikit terhibur
dan kembali ceria oleh tingkah konyolku dan Meli yang selalu membuat kesalahan
dan dimarahi ditempat kerja.
“Alfie hari-hari ngantok je buat kerja!” teriak kak
Reni kawan kerjaku yang sukses membuyarkan mimpi indahku dan membuat kawan yang
lain mentertawakanku.
Meli juga selalu menirukan leader kami saat ia
marah-marah dengan gaya lucunya yang selalu bisa membuat kami tertawa.
Februari 2016, tiba waktu kami kembali ke Indonesia
dan meninggalkan Malaysia. Setelah mengemasi barang-barangku kedalam koper dan
beberapa tas kecil, aku keluar kamar dan berpamitan dengan semua kawan yang
akan kutinggalkan, beberapa kawan memang masih lama bekerja disini, dan yang
lainnya memperpanjang kontrak kerjanya.
Di luar aku, Meli, Nur dan beberapa kawan lain yang
akan pulang ke Indonesia, saling berpamitan satu sama lain, karena meski kami
sangat dekat diasrama, tempat tinggal kami di Indonesia sangatlah berjauhan.
Aku juga tidak bisa menyembunyikan kesedihanku
menghadapi kenyataan, bahwa aku juga harus berpisah dengan kedua sahabatku Meli
dan Nur, kami saling berpelukan dan meluapkan rasa sayang kami satu sama lain,
berterima kasih karena telah menjadi sahabat terbaik selama dua tahun ini.
Baik aku, Meli, maupun Nur saling berjanji bahwa
kami akan bertemu kembali di lain hari dan berbagi pengalaman lain saat kami
terpisah ruang dan waktu.
“Maaf ya kalau selama ini Alfie selalu menyusahkan
kalian berdua” ujarku sambil menatap Meli dan Nur.
“Justru Mel yang paling menyusahkan kalian” jawab
Meli.
“Nur juga” sahut Nur.
“Juga apa?” tanyaku sambil tersenyum geli.
Kami akhirnya kembali tersenyum dan terkekeh geli
mengingat semua kelakuan konyol yang kami lakukan bertiga selama ini.
Bis yang akan mengantarkan ke bandara pun telah
tiba, kami melangkahkan kaki, pergi dari tempat yang memiliki banyak kenangan
itu. Kak Rida kawan seperjuangan kami saat mengaji, menangis tersedu-sedu
menatap kepergian kami, begitupun dengan kawan yang lain.
Sepanjang perjalanan semua orang mengenang semua hal
yang kami tinggalkan di negeri jiran ini. Berbeda dari mereka aku, Meli, dan
Nur malah tertidur pulas sampai ke bandara. (hihi kebiasaan pelor) :D
Setelah melalui semua proses boarding, kami pun
menaiki pesawat dengan penuh haru, ada rasa antusias untuk bertemu keluarga
kami, tapi disisi lain juga ada rasa duka yang entah kenapa kami rasakan begitu
dalam. Mungkin salah satu alasannya adalah, ada keluarga kecil disana yang kami
tinggalkan setelah kami perjuangkan, ukhuwah yang kami lepaskan setelah kami
genggam erat.
Suka dan Duka bercampur aduk dalam hati kami
bertiga, menyisakan kenangan yang mulai tersimpan dalam ingatan kami, yang
sampai kapanpun tidak akan pernah kami lupakan.
Yang tersayang kawan kami di Finisar Malaysia, di
asrama Khantan, di LIQO, maupun komunitas muslimah Indonesia di Malaysia.
Rindu hanya sekedar kata yang kadang terlupakan..
Oleh bulan pada bintang..
Oleh langit pada matahari..
Oleh awan pada hujan..
Rindu hanya sekedar perasaan yang kadang terhapus
waktu..
Oleh Bunga pada tangkainya..
Oleh Pohon pada tempatnya berpijak..
Oleh air pada sumbernya berasal…
Tapi, rindu menjadi alasan kenapa aku masih
mengingat kalian..
Rindu menjadi bukti bahwa kita pernah dekat sebagai
kawan..
Rindu adalah rasa bagi teman seperjuangan..
Rindu menjadi kunci pembuka pintu kenangan..
Untuk itu biar kini kuungkapkan..
Sebuah hal yang menjadi kenyataan..
Bahwa aku sangat merindu dibersamai oleh kalian..
Yang selalu memberi kehangatan…
To be continue…

Komentar
Posting Komentar