ALENA

Di sebuah panti asuhan, ada seorang anak perempuan
bernama Mica. Mica adalah seorang gadis kecil yang pendiam dan pemalu. Namanya
ia dapatkan saat pertama kali datang ke panti itu saat usianya dua tahun. Ibu
panti menamainya Mica. Mica adalah singkatan dari Mimosa Pudica yang artinya
putri malu. Saat itu ia tidak pernah mau bicara dan hanya bersembunyi ditempat
tertutup seperti dibawah ranjang atau dibelakang pintu.
Kini Mica telah genap berusia duabelas tahun, ia
memiliki tubuh mungil dengan kulit putih, mata bulat berbinar, bibir
tipis dan hidung cukup mancung. Mica berambut panjang
sepinggang, dengan poni segaris dengan alisnya. Saking pemalunya, ia tidak
pernah berani menunjukan wajahnya yang cantik dan selalu menunduk hingga rambut
dan poni menutupi sebagian besar wajahnya.
Mica memiliki tahi lalat kecil
dipipi kirinya, yang menjadikan wajahnya semakin manis saat dipandang. Ia
sangat suka menulis diary di taman panti. Tapi, saat ada orang yang mendekati
dan ingin mengajaknya bicara, Mica akan langsung berlari ke kamarnya.
Mica memiliki kebiasaan kecil setiap kali berbicara
dengan orang lain, selain menunduk, ia juga akan menekuk kaki kanannya
kebelakang dan mengetuk nya beberapa kali ke lantai sebagai tanda bahwa memang
ia sedang merasa malu.
Suatu hari datanglah pasangan suami istri dari kota
yang hendak mengadopsi salah satu anak di panti asuhan tersebut. Kedua pasangan
tersebut bernama Eva dan Rudi. Ibu panti menyambut mereka dengan ramah.
“Selamat datang di panti asuhan kami pak, ada yang
bisa saya bantu?” ujar ibu panti.
“Iya bu, saya Rudi dan ini istri saya Eva. Kami
datang kesini dengan maksud ingin mengangkat anak dari panti asuhan yang ibu
kelola” kata pak Rudi.
Nyonya Eva hanya tersenyum dan membiarkan suaminya
berbincang dengan ibu panti, sedangkan ia telah meminta ijin untuk
melihat-lihat seluruh pelosok panti. Pertama, ia memasuki ruang makan, ruang
belajar, lalu sampailah ia di ruang tidur anak-anak asuhan disana.
Satu persatu ia lihat, disana rata-rata usia anak ialah
dua sampai limabelas tahun. Nyonya Eva sangat gembira bercengkrama dengan
anak-anak. Tapi, saat hendak pergi menemui suaminya, nyonya Eva melihat dari
jendela seorang gadis kecil yang sedang duduk disebuah kursi taman. Ada rasa
penasaran dalam hatinya melihat gadis itu yang tak lain adalah Mica.
Nyonya Eva kemudian keluar dan mendekati Mica,
seperti biasa saat mendengar langkah kaki mendekat kearahnya, Mica bersiap
untuk pergi. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat wanita dihadapannya. Mica
hanya berdiri sambil menunduk. Rambutnya yang terurai kembali menutupi
wajahnya.
“Nak, siapa namamu?” Tanya nyonya Eva. Mica tidak
menjawabnya dan mengambil langkah mundur.
“Jangan takut, ibu hanya ingin berbicara sedikit
denganmu” rayu nyonya Eva.
“Sini-sini ! biar kita duduk dulu.” Kata nyonya Eva
sambil menarik lengan Mica untuk duduk di kursi sebelumnya.
“Apa kau tinggal di panti ini juga?” Tanya nyonya
Eva
Mica mengangguk pelan. Ia menggenggam buku diary
miliknya dengan kuat seolah tak rela jika terjatuh.
“Lalu apa kamu tidak mau memberitahu namamu padaku?”
Tanya nyonya Eva lagi, lalu ia mengambil sebuah coklat dari dalam tasnya dan
diberikan pada Mica. Mica tidak langsung menerimanya dan hanya terdiam.
“Ibu…” batin Mica.
Nyonya Eva hanya tersenyum melihat Mica yang tidak
mau berbicara padanya.
“Baiklah kalau begitu, ibu mau pergi dulu. Jadi diri
baik-baik ya nak” kata nyonya Eva sambil tersenyum lalu pergi.
Tapi, sebelum menjauh langkah nyonya Eva terhenti
saat tiba-tiba Mica berbicara.
“Mica, nama saya Mica” kata Mica lalu berlari ke kamarnya.
Nyonya Eva tersenyum geli melihat tingkah lucu Mica.
Ia pun bertanya pada ibu panti asal usul gadis bernama Mica.
“Dia diantarkan kesini oleh seorang polisi saat
usianya baru dua tahun. Kata polisi dia ditelantarkan ibunya disebuah gubuk
yang tak layak tinggal dan ditemukan oleh seorang petani yang melewati gubuk
itu. Mica sangat berbeda dengan anak lain karena sifatnya yang sangat pemalu,
jadi silakan pertimbangkan kembali untuk mengambilnya sebagai anak angkat.”
Begitu penjelasan ibu panti selesai nyonya Eva mengajak suaminya berbicara
berdua diluar.
“Aku mau anak itu mas!” kata nyonya Eva.
“Baiklah sayang, jika dia yang terbaik menurutmu”
jawab tuan Rudi sambil tersenyum.
Mereka pun akhirnya membicarakannya dengan ibu panti
dan disetujui. Sebelum bisa membawa Mica, tuan dan nyonya Rudi diberi waktu dua
bulan untuk menjalani pendekatan dengan Mica. Akhirnya mereka pun setuju dan
pulang.
Ibu panti memberitahukan hal itu pada Mica bahwa, ia
akan segera memiliki keluarga yang utuh. Mica tersenyum meski tak terlihat
karena rambutnya yang selalu terurai, ia mengetukkan kaki kanannya diatas
lantai dan terus menunduk dan mengangguk kecil, mengiyakan perkataan ibu panti.
Sebulan berlalu, setiap akhir pekan Mica selalu
berdiri di depan gerbang panti seolah menunggu kedatangan calon ayah dan
ibunya. Tapi, setelah empat minggu mereka tidak datang juga. Mica mulai merasa
kecewa.
Mica duduk sendiri di taman dan kembali menulis
catatan dalam diarynya. Kemudian, ibu panti datang. Mica mengira bahwa ibu
panti akan memberitahunya bahwa calon ayah dan ibunya sudah datang. Tapi, ibu
panti malah membawa berita buruk.
“Mica, calon orangtuamu tidak bisa datang. Nyonya
Eva yang akan menjadi ibumu sudah meninggal dunia” kata ibu panti.
Mica menjatuhkan diarynya dan menunduk lalu
meneteskan air mata. Ibu panti hendak memeluknya tapi, Mica sudah berlari ke
kamarnya. Ibu panti mengambil diary Mica dan tanpa sengaja halaman terakhir
yang Mica tulis terbuka.
“Aku malu, malu hanya untuk hidup dan menatap dunia.
Usiaku baru duabelas tahun. Tapi, aku sudah hidup sendiri. Didunia ini, hal
yang paling memalukan dalam hidupku adalah kehidupan itu sendiri. Begitu
memalukan kah diriku hingga seseorang yang melahirkanku saja meninggalkanku ?.
Tapi, kemarin seorang wanita berhati lembut menggenggam lenganku. Ia selalu
tersenyum setiap kali berbicara padaku. Aku merasakan kehangatan disetiap
kalimat yang ia ucapkan. Mungkinkah, dia ibu lain yang tuhan ciptakan untukku?”
Ibu panti menangis membaca tulisan Mica yang
menyayat hati. Ia tak menyangka anak pemalu itu begitu memendam luka dalam
hatinya, hingga ia tak seceria anak lain yang masih polos.
Dua bulan kemudian Pak Rudi datang seorang diri ke
panti asuhan, ia berkata pada ibu panti bahwa istrinya dulu sangat ingin
mengadopsi Mica sebagai anak.
“Saya ingin meneruskan proses adopsi terhadap Mica
bu.” Kata pak Rudi.
Karena syaratnya sudah lengkap. Saat itu pula pak
Rudi bisa membawa Mica.
Mica sedikit tersenyum saat pak Rudi menuntunnya
kesebuah rumah yang cukup besar dan indah.
“Ibu… mana ibu?” Tanya Mica perlahan.
Pak Rudi kemudian mengajak Mica kekamar barunya yang
sudah tertata rapi dengan cat dinding warna pink, tempat tidur yang cantik,
lemari baju dan meja belajar, serta beberapa pakaian dan peralatan sekolah.
“Semua ini ibu yang siapkan untuk Mica, jadi Mica
harus menjadi anak yang rajin dan baik” kata pak Rudi.
“Tapi.. ibu mana?” Tanya Mica lagi.
“ibu tidak bisa menemani Mica saat ini, karena dia
sudah berada ditempat yang sangat jauh” jawab pak Rudi.
“maksud ayah, jadi benar ibu sudah meninggal?” Tanya
Mica sambil berkaca-kaca.
Perasaan sedih itu menyeruak dalam segenap hatinya.
Disaat ia sudah menemukan keluarga, justru ia harus kehilangan kesempatan untuk
memanggil seseorang dengan panggilan ibu.
Mica tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan
pintar, ayah angkatnya pak Rudi menyekolahkan ia hingga ke perguruan tinggi di Australia,
mereka hidup bahagia dan saling menyayangi satu sama lain sebagai ayah dan
anak.
Suatu hari diusianya yang ke duapuluh tahun, tak
sengaja Mica menemukan sebuah map biru dibawah lemari buku dirumahnya, disana
ada beberapa dokumen dan diantara dokumen itu ada foto Mica saat masih dua
tahun, dibelakang foto itu tertulis “Putri kecilku alena”.
Mica tidak mengerti apa maksud dari tulisan itu
sebelum akhirnya ia menemukan riwayat hidup ibunya. Ayahnya alias pak Rudi
adalah suami kedua bagi Eva ibu angkatnya yang sudah meninggal. Sebelum itu Eva
pernah menikah dengan laki-laki lain namun, mereka bercerai dan sang mantan
suami membawa pergi putri tunggal mereka.
Tamat.
Salah fokus ke gambarnya wkwkwk
BalasHapus*Padahal dia udah nenek2
Wkwk sengaja.. biar gereget
Hapussedih :'(
BalasHapus