ALENA


 Image result for GADIS 12 TAHUN INDONESIA







     Di sebuah panti asuhan, ada seorang anak perempuan bernama Mica. Mica adalah seorang gadis kecil yang pendiam dan pemalu. Namanya ia dapatkan saat pertama kali datang ke panti itu saat usianya dua tahun. Ibu panti menamainya Mica. Mica adalah singkatan dari Mimosa Pudica yang artinya putri malu. Saat itu ia tidak pernah mau bicara dan hanya bersembunyi ditempat tertutup seperti dibawah ranjang atau dibelakang pintu.

   Kini Mica telah genap berusia duabelas tahun, ia memiliki tubuh mungil dengan kulit putih, mata bulat berbinar, bibir tipis dan hidung cukup mancung. Mica berambut panjang sepinggang, dengan poni segaris dengan alisnya. Saking pemalunya, ia tidak pernah berani menunjukan wajahnya yang cantik dan selalu menunduk hingga rambut dan poni menutupi sebagian besar wajahnya.

    Mica memiliki tahi lalat kecil dipipi kirinya, yang menjadikan wajahnya semakin manis saat dipandang. Ia sangat suka menulis diary di taman panti. Tapi, saat ada orang yang mendekati dan ingin mengajaknya bicara, Mica akan langsung berlari ke kamarnya.

    Mica memiliki kebiasaan kecil setiap kali berbicara dengan orang lain, selain menunduk, ia juga akan menekuk kaki kanannya kebelakang dan mengetuk nya beberapa kali ke lantai sebagai tanda bahwa memang ia sedang merasa malu.

   Suatu hari datanglah pasangan suami istri dari kota yang hendak mengadopsi salah satu anak di panti asuhan tersebut. Kedua pasangan tersebut bernama Eva dan Rudi. Ibu panti menyambut mereka dengan ramah.

“Selamat datang di panti asuhan kami pak, ada yang bisa saya bantu?” ujar ibu panti.
“Iya bu, saya Rudi dan ini istri saya Eva. Kami datang kesini dengan maksud ingin mengangkat anak dari panti asuhan yang ibu kelola” kata pak Rudi.

    Nyonya Eva hanya tersenyum dan membiarkan suaminya berbincang dengan ibu panti, sedangkan ia telah meminta ijin untuk melihat-lihat seluruh pelosok panti. Pertama, ia memasuki ruang makan, ruang belajar, lalu sampailah ia di ruang tidur anak-anak asuhan disana.

    Satu persatu ia lihat, disana rata-rata usia anak ialah dua sampai limabelas tahun. Nyonya Eva sangat gembira bercengkrama dengan anak-anak. Tapi, saat hendak pergi menemui suaminya, nyonya Eva melihat dari jendela seorang gadis kecil yang sedang duduk disebuah kursi taman. Ada rasa penasaran dalam hatinya melihat gadis itu yang tak lain adalah Mica.


   Nyonya Eva kemudian keluar dan mendekati Mica, seperti biasa saat mendengar langkah kaki mendekat kearahnya, Mica bersiap untuk pergi. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat wanita dihadapannya. Mica hanya berdiri sambil menunduk. Rambutnya yang terurai kembali menutupi wajahnya.

“Nak, siapa namamu?” Tanya nyonya Eva. Mica tidak menjawabnya dan mengambil langkah mundur.
“Jangan takut, ibu hanya ingin berbicara sedikit denganmu” rayu nyonya Eva.
“Sini-sini ! biar kita duduk dulu.” Kata nyonya Eva sambil menarik lengan Mica untuk duduk di kursi sebelumnya.

“Apa kau tinggal di panti ini juga?” Tanya nyonya Eva
Mica mengangguk pelan. Ia menggenggam buku diary miliknya dengan kuat seolah tak rela jika terjatuh.
“Lalu apa kamu tidak mau memberitahu namamu padaku?” Tanya nyonya Eva lagi, lalu ia mengambil sebuah coklat dari dalam tasnya dan diberikan pada Mica. Mica tidak langsung menerimanya dan hanya terdiam.
“Ibu…” batin Mica.

Nyonya Eva hanya tersenyum melihat Mica yang tidak mau berbicara padanya.
“Baiklah kalau begitu, ibu mau pergi dulu. Jadi diri baik-baik ya nak” kata nyonya Eva sambil tersenyum lalu pergi.
Tapi, sebelum menjauh langkah nyonya Eva terhenti saat tiba-tiba Mica berbicara.
“Mica, nama saya Mica”  kata Mica lalu berlari ke kamarnya.

Nyonya Eva tersenyum geli melihat tingkah lucu Mica. Ia pun bertanya pada ibu panti asal usul gadis bernama Mica.
“Dia diantarkan kesini oleh seorang polisi saat usianya baru dua tahun. Kata polisi dia ditelantarkan ibunya disebuah gubuk yang tak layak tinggal dan ditemukan oleh seorang petani yang melewati gubuk itu. Mica sangat berbeda dengan anak lain karena sifatnya yang sangat pemalu, jadi silakan pertimbangkan kembali untuk mengambilnya sebagai anak angkat.” Begitu penjelasan ibu panti selesai nyonya Eva mengajak suaminya berbicara berdua diluar.

“Aku mau anak itu mas!” kata nyonya Eva.
“Baiklah sayang, jika dia yang terbaik menurutmu” jawab tuan Rudi sambil tersenyum.

   Mereka pun akhirnya membicarakannya dengan ibu panti dan disetujui. Sebelum bisa membawa Mica, tuan dan nyonya Rudi diberi waktu dua bulan untuk menjalani pendekatan dengan Mica. Akhirnya mereka pun setuju dan pulang.

    Ibu panti memberitahukan hal itu pada Mica bahwa, ia akan segera memiliki keluarga yang utuh. Mica tersenyum meski tak terlihat karena rambutnya yang selalu terurai, ia mengetukkan kaki kanannya diatas lantai dan terus menunduk dan mengangguk kecil, mengiyakan perkataan ibu panti.


    Sebulan berlalu, setiap akhir pekan Mica selalu berdiri di depan gerbang panti seolah menunggu kedatangan calon ayah dan ibunya. Tapi, setelah empat minggu mereka tidak datang juga. Mica mulai merasa kecewa.
Mica duduk sendiri di taman dan kembali menulis catatan dalam diarynya. Kemudian, ibu panti datang. Mica mengira bahwa ibu panti akan memberitahunya bahwa calon ayah dan ibunya sudah datang. Tapi, ibu panti malah membawa berita buruk.

“Mica, calon orangtuamu tidak bisa datang. Nyonya Eva yang akan menjadi ibumu sudah meninggal dunia” kata ibu panti.

Mica menjatuhkan diarynya dan menunduk lalu meneteskan air mata. Ibu panti hendak memeluknya tapi, Mica sudah berlari ke kamarnya. Ibu panti mengambil diary Mica dan tanpa sengaja halaman terakhir yang Mica tulis terbuka.

“Aku malu, malu hanya untuk hidup dan menatap dunia. Usiaku baru duabelas tahun. Tapi, aku sudah hidup sendiri. Didunia ini, hal yang paling memalukan dalam hidupku adalah kehidupan itu sendiri. Begitu memalukan kah diriku hingga seseorang yang melahirkanku saja meninggalkanku ?. Tapi, kemarin seorang wanita berhati lembut menggenggam lenganku. Ia selalu tersenyum setiap kali berbicara padaku. Aku merasakan kehangatan disetiap kalimat yang ia ucapkan. Mungkinkah, dia ibu lain yang tuhan ciptakan untukku?”

   Ibu panti menangis membaca tulisan Mica yang menyayat hati. Ia tak menyangka anak pemalu itu begitu memendam luka dalam hatinya, hingga ia tak seceria anak lain yang masih polos.



   Dua bulan kemudian Pak Rudi datang seorang diri ke panti asuhan, ia berkata pada ibu panti bahwa istrinya dulu sangat ingin mengadopsi Mica sebagai anak.

“Saya ingin meneruskan proses adopsi terhadap Mica bu.” Kata pak Rudi.
Karena syaratnya sudah lengkap. Saat itu pula pak Rudi bisa membawa Mica.


Mica sedikit tersenyum saat pak Rudi menuntunnya kesebuah rumah yang cukup besar dan indah.
“Ibu… mana ibu?” Tanya Mica perlahan.
Pak Rudi kemudian mengajak Mica kekamar barunya yang sudah tertata rapi dengan cat dinding warna pink, tempat tidur yang cantik, lemari baju dan meja belajar, serta beberapa pakaian dan peralatan sekolah.
“Semua ini ibu yang siapkan untuk Mica, jadi Mica harus menjadi anak yang rajin dan baik” kata pak Rudi.
“Tapi.. ibu mana?” Tanya Mica lagi.
“ibu tidak bisa menemani Mica saat ini, karena dia sudah berada ditempat yang sangat jauh” jawab pak Rudi.
“maksud ayah, jadi benar ibu sudah meninggal?” Tanya Mica sambil berkaca-kaca.

    Perasaan sedih itu menyeruak dalam segenap hatinya. Disaat ia sudah menemukan keluarga, justru ia harus kehilangan kesempatan untuk memanggil seseorang dengan panggilan ibu.


   Mica tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan pintar, ayah angkatnya pak Rudi menyekolahkan ia hingga ke perguruan tinggi di Australia, mereka hidup bahagia dan saling menyayangi satu sama lain sebagai ayah dan anak.

    Suatu hari diusianya yang ke duapuluh tahun, tak sengaja Mica menemukan sebuah map biru dibawah lemari buku dirumahnya, disana ada beberapa dokumen dan diantara dokumen itu ada foto Mica saat masih dua tahun, dibelakang foto itu tertulis “Putri kecilku alena”.


   Mica tidak mengerti apa maksud dari tulisan itu sebelum akhirnya ia menemukan riwayat hidup ibunya. Ayahnya alias pak Rudi adalah suami kedua bagi Eva ibu angkatnya yang sudah meninggal. Sebelum itu Eva pernah menikah dengan laki-laki lain namun, mereka bercerai dan sang mantan suami membawa pergi putri tunggal mereka.

Tamat.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNSUR-UNSUR PAGELARAN DRAMA

CARA MENYEMAI BENIH CABAI PAPRIKA DENGAN TEKNIK HIDROPONIK

HUJAN DIMALAM JUM'AT